Masih terasa sisa cahaya senja yg ungu itu
Serta tetes air hujan di kulit
Rasanya seperti mengeras dan mengupas kulit lapisan luar
Belum lagi sesayup dia memanggil namaku dengan lembut
Melambaikan tangannya dan tersenyum sambil menggandeng pacar barunya
Sedikit kejam menurutku,
Karena dia mengikat hatiku terlalu kuat.. Terlalu kencang.. Begitu sesak.. Tak bersisa..
Hanya sedikit celah longgar yg disisakan, mungkin agar aku siap menghadapi saat2 seperti ini
Dimana saatnya pemeran romeo bunuh diri, namun juliet berlari ke pangeran bermobil sedan
Dan semua berakhir dengan mawar yg kugigit hingga berdarah, tangan kumasukan kekantong jaket yg bolong berjalan menunduk mengitari taman.
Sesampai dirumah, cuma tersisa sekaleng bir dan aku duduk diteras menatap bulan yg sedang tersipu..
Seteguk.. Perlahan.. Menahan tiang air yg siap roboh kapanpun, dimanapun..
Begitu tinggi, berat, dan siap jatuh terjun bebas sebelum diusap tanganku yg kotor..
Romeo, romeo..
Bukan selalu tentang pria sempurna, kaya, tampan, dan bijaksana.
Hanya cintanya yg sempurna, bukan pasangannya..
Aku tak seharusnya mencintainya, namun aku memilih untuk mencintainya..
Hingga matahari siap mengetuk lantai kayu terasku, aku tersenyum dan tak pernah menyesalinya..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar