Dia berlari di kemilau cahaya rembulan
Terkadang terengah menahan napas
Tubuhnya semakin berat
Kakinya berlari tertatih menahan darah
"Dia sekarat!"
Teriak gadis berkerudung ungu
Mencoba meraihnya namun tak kuasa
Dia liar, bak binatang buas
Menggigit dan berbisa
Coba dengar apa yg gadis itu katakan,
"Apa yg kamu cari membuatmu bahagia?"
Rasanya batin tercambuk!!
Sedikit membungkuk dia menangis
Meringis pilu yg membengkokkan hatinya
Siapa sangka sekalimat itu menampar malunya?
Menunmbuhkan penyesalan dalam hingar bingar malam
"Katakan padaku, kapan kamu berhenti?"
Gadis itu bertanya lagi
Dia hanya bisa menangis meringkik
Seperti kuda yg terusik
Menggaruk tanah hingga kuku berdarah
"Lihatlah! Gadis dengan kata ajaibnya menundukkan si buas!"
Teriak orang sekampung membawa obor juga parang
Berbondong-bondong mereka memasang kuda-kuda untuk menyerang
Memaksa dia hingga lari dari kenyataan,
Hidup enggan mati pun tak mau
Itu harapan mereka untuk dia
Namun lihatlah, dia yg dijuluki si buas tanpa nadi dan hati merunduk sujud
Kepada gadis kecil dengan kata ajaibnya
Menembus telinga, menusuk hati, menggampar harga diri
Perlahan tapi pasti dia tenggelam dalam darahnya sendiri
Sedetik lagi bersiap untuk mati, dia tersenyum pada gadis dan mengucapkan,
"Terima kasih"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

buru-buru sih nggak, tapi lo agak panjang menjabarkan setelah antiklimaks jadi klimaksnya rada kelewat gitu, gak terekspose. terus gue juga masih bingung ini jadinya gimana deh ceritanya? hahaha
BalasHapusaduh gue maluuuuu