Terpapar sebuah pemandangan diantara dua bukit berdampingan
Dua jengkal dari sana bibirnya yg selalu menggoda, ya dari sana cintaku berasal.
Kurasakan harum tubuhnya, buatku membatu dengan penuh rasa
Aromanya membuatku gila, penuh fantasi, imajinasi yg begitu liar dan dalam.
Detik demi detik berlalu bagaikan bulir-bulir air mengarungi waktu yg tak pernah berbohong memutarkan nalar logika, membalikkan fakta
Jemari kaku dan semua tampak begitu semu
Dan kamu hanya terbaring seperti itu menungguku melakukan sesuatu
Keanggunanmu buatku melamun, kau buatku bagaikan penyamun, haus akan aromamu
Jujur aku tak kuasa menahan hasrat, menggebu liar. Ingin rasanya menabrakkan tubuhku ke tembok menghilangkan cenat cenut dikepala
Sejenak kemudian kau bawaku ke alam liar, bergumul ditemani asap dari tembikar
Kepalaku seperti cerobong asap. Mengepul deras, melambung tinggi jauh ke awan.
Menahanku perlahan, lepaskan beban, berhenti dan menari tanpa sungkan
Aku pun berdiri duduk diatas tubuhmu, biarkanmu melihat sesukamu seluk beluk lekuk setiap inci propertiku
Peluh berjatuhan, menjadi saksi dan teman perjalanan
Kukecup perlahan dari dahi hingga ujung kaki
Kamu menikmati tiap sapuan kuas lidahku yg melumat tiap baris tubuhmu
Tercipta gestur yang melantur, nafasku tak teratur terdengar seperti mendengkur
Selangkah lagi sayang, satu malam lagi terlewati.
Sempurna, kau dan aku berbaring tak berdaya
Kamu jelas membuatku melayang, hingga membentuk rasi bintang menuju ke semesta yg tak lekang
Rapuh mulai terasa saat tubuhmu menghilang di balik kabut, tinggal diriku bertabur kalut
Memudar hilang seperti kabut panas, tenggelam larut seperti putih gula di secangkir kopi panas.
semakin kucari, semakin kau larut..
Dan benar saja itu semua hanya fatamorgana, khalayan liar. Hanya ada aku terbaring sendiri dikamar
Tersudut oleh tatapan lampu yang terlupa sejak kau merasuki pikiranku
Aku terbangun dengan celana basah, ahh... Mimpi yg gila.
A.O
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar