Sekarang pun waktu mengikisku, menempa dan membakarku layaknya matahari yang menjadikanmu rembulan. Kamu tau? Aku dulu mencintai hujan. Yang mampu menggenangi semua kenangan terbasahmu. Tapi kini aku mau menjadi matahari, yang rela mati untukmu tiap malam agar kamu bisa bernafas.
Selasa, 10 Februari 2015
Tanpa judul.
Dan beginilah bagaimananya aku. Mengingat apa yang telah berlalu. Maaf untuk waktu ketika aku membuatmu sedih, dan berbahagialah kamu untuk waktu ketika kita tertawa lepas.
Kamis, 05 Juni 2014
Sampan sangkuriang
"Kita hidup cuma sekali, dan aku mau hidup denganmu", ucapku di telepon. Hening sekejap berjinjit melewati jarak antara kita. Berlarut tiap malam tak saling memandang dan tak bersentuhan. Rindu saling menunggu bertamu temu. Tunggu dan terus menunggu agar bibir saling menyatu juga lingkar tanganmu sayang memeluk pundakku.
"Aku tau kamu lelah, sabar sebentar, aku mencari jalan pulang", ujarku lirih. Bukan, aku bukannya tersesat sampai harus meninggalkanmu disitu. Anggap saja aku sedang membangun istana yg nyata untuk kamu tempati. Bukan sekedar istana mimpi yg kubangun diatas pusarmu, dulu. Aku berandai akulah sangkuriang dan dalam semalam kubangun sampan bagi airmatamu yg tergenang, tapi sayang aku bukan sangkuriang. Aku ingin jadi pemenang bagimu dan pulang penuh dengan piala berlimpang.
"Semuanya untukmu, tenang disitu", berkali-kali sayang ku ucap itu. Tapi malah diam yg kudapat. Bisa kubayangkan wajah bebekmu menggerutu dan berharap aku naik taxi langsung kesebelahmu.
Tak kurang entah setiap kapan rindu ku bicara pada Tuhan, mengadu agar airmataku diberi kaki untuk berlari kearah pintu kamarmu. Mereka pun berlari membentuk kelok sungai berliku dan kubawa sampan sangkuriang melintasi jarak waktu sampai kita bertemu.
Senin, 14 April 2014
Mimpi si karung goni
"Kamu siapa?", tanyaku sebentar dalam hati. Menggumam selaksana cenayang merapal mantra. "Kamu kenapa?", bingungku dibuatmu, kenapa kamu? Kenapa harus aku? Kenapa hidupku? Yg mau ku sisakan, yg ingin kuhabiskan semauku denganmu. Tapi lihat dirimu, sayang, berkacalah. Bayangmu pun bangga menjadi dirimu. Dan lihatlah aku, bagaimana aku, bongkahan batu yg menggelinding bebas dan hilang entah kemana.
Aku mau kamu. Aku mau hidupmu. Akulah aku, egoku yg ada padaku. Ingin kubunuh diriku jika berani bermimpi denganmu.
"Sadar diri, bos!", kataku hina.
Dan entah sudah malam keberapa kucoba menabrak bulan untuk terdampar diantara bintang, bukannya di kebun binatang yg penuh dengan umpatan.
Kamis, 02 Januari 2014
Sofa impian
Kenyamanan itu adalah, ada aku dan kamu duduk disofa menonton dvd semalaman.
Buatku uang pun tak bisa membeli kenyamanan itu.
tapi kamu, buatmu kenyamanan adalah sofa yang canggih, yang punya mesin roket dan kulkas didalamnya, sofa yang bisa buatmu terbang ke angkasa. sofa impian
sayang, aku gak punya sofa seperti itu. sofaku warnanya coklat keabu-abuan, dengan beberapa keping dvd, bir dan pizza yang bisa kita pesan lewat telfon sebagai perlengkapannya.
kamu mau sofa canggih itu?
mungkin aku bisa mendapatkan dua, atau tiga sofa yang kamu suka. tapi berjanjilah jangan pernah pergi daripadaku. Jangan pula bertanya tentang bagaimana dan seperti apa caraku membeli sofa impianmu, hanya duduk saja dan nikmati sofamu itu.
sofa yang kudapatkan warnanya merah dari kulit rusa, ada mesin jet dan tenaga roket yang buatmu terbang keangkasa, tapi sayang konsekuensinya aku tak bisa menemanimu seperti biasa, ada harga yang harus kubayar untuk sofa impianmu.
lucunya aku jelaskan beberapa kali ketika kamu bertanya mengapa aku tak pulang hari ini. aku tak bisa menemanimu disitu, kamu tau aku mau kamu, aku tau kamu mau sofa itu. tapi kamu marah dan karena aku tak lagi sering duduk disitu. Disebelahmu. Diatas sofamu yg baru.
kamu marah, kamu pergi bawa sofa impianmu, sama mantanmu, terbang kebulan naik sofa yg kuberikan cuma buat kamu.
.......
"Ada cinta, hilang segala...."
kata pujangga tua duduk diatas sofa tuanya...
Melihatmu pergi menjauh. Mendengakkan kepalaku untuk melihatmu hilang perlahan dan tersapu langit yang membiru. Lalu inilah aku, pulang dengan bibir berdarah menggigit mawar merah berduri yg sengaja kubeli sebelum menemuimu. Sendiriku duduk di sofa nyamanku tanpa kamu, cuma bir, pizza dan beberapa keping dvd..
aku rasa, aku tidak kehilangan semuanya. Kata membiru pada rinduku padamu yg kurasakan tabu. Tak mau lagi ku tukar cintaku dengan sebuah sofa atau keinginan yg bukan daripadaku biarpun itu membahagiakanmu. Aku mau hidupku. Biarpun dulu hidupku itu kamu.
"ada cinta hilang segala..."
*lempar pujangga tua pake sofa*
Buatku uang pun tak bisa membeli kenyamanan itu.
tapi kamu, buatmu kenyamanan adalah sofa yang canggih, yang punya mesin roket dan kulkas didalamnya, sofa yang bisa buatmu terbang ke angkasa. sofa impian
sayang, aku gak punya sofa seperti itu. sofaku warnanya coklat keabu-abuan, dengan beberapa keping dvd, bir dan pizza yang bisa kita pesan lewat telfon sebagai perlengkapannya.
kamu mau sofa canggih itu?
mungkin aku bisa mendapatkan dua, atau tiga sofa yang kamu suka. tapi berjanjilah jangan pernah pergi daripadaku. Jangan pula bertanya tentang bagaimana dan seperti apa caraku membeli sofa impianmu, hanya duduk saja dan nikmati sofamu itu.
sofa yang kudapatkan warnanya merah dari kulit rusa, ada mesin jet dan tenaga roket yang buatmu terbang keangkasa, tapi sayang konsekuensinya aku tak bisa menemanimu seperti biasa, ada harga yang harus kubayar untuk sofa impianmu.
lucunya aku jelaskan beberapa kali ketika kamu bertanya mengapa aku tak pulang hari ini. aku tak bisa menemanimu disitu, kamu tau aku mau kamu, aku tau kamu mau sofa itu. tapi kamu marah dan karena aku tak lagi sering duduk disitu. Disebelahmu. Diatas sofamu yg baru.
kamu marah, kamu pergi bawa sofa impianmu, sama mantanmu, terbang kebulan naik sofa yg kuberikan cuma buat kamu.
.......
"Ada cinta, hilang segala...."
kata pujangga tua duduk diatas sofa tuanya...
Melihatmu pergi menjauh. Mendengakkan kepalaku untuk melihatmu hilang perlahan dan tersapu langit yang membiru. Lalu inilah aku, pulang dengan bibir berdarah menggigit mawar merah berduri yg sengaja kubeli sebelum menemuimu. Sendiriku duduk di sofa nyamanku tanpa kamu, cuma bir, pizza dan beberapa keping dvd..
aku rasa, aku tidak kehilangan semuanya. Kata membiru pada rinduku padamu yg kurasakan tabu. Tak mau lagi ku tukar cintaku dengan sebuah sofa atau keinginan yg bukan daripadaku biarpun itu membahagiakanmu. Aku mau hidupku. Biarpun dulu hidupku itu kamu.
"ada cinta hilang segala..."
*lempar pujangga tua pake sofa*
Kamis, 19 Desember 2013
Ranjang senang
Waktu berputar pada ruang yg jadi porosnya. Kian mengalun pada semesta yg bersorak untuk berduka pun juga sebaliknya. "dunia bukan soal hitam atau putih, sayang", ujarmu merebah disampingku tanpa baju. Bulan menjelma menjadi kamu. Perlahan memanjat dari ranting ke ranting mencapai posisi tertinggi dan (semoga) bukan untuk saling menghakimi. Kitalah salah, kitalah benar. Berpendar gemerlap bersama peluhmu turun dari dada yg naik dan turun. Mungkinkah aku sedang senang merasa sedih atau sedang sedih merasa senang? Menyaksikanmu sayang, buatku hilang ingatan. Aku ingin kamu pulang, menjaga anakmu yg tidurnya telanjang. Aku juga ingin kamu menggelinjang, lenguh rindumu di ranjang. Aku hanya melakukan apa yg semesta bilang, tanpa serta merta meragukan kesalahanku yg berulang-ulang. Tanpa tanda tanya pun hanya tanda kecup pada mata, sayang, jelaskan dulu mengapa kamu disini sekarang? Bukankah pada akhirnya bulan pun hilang? Mulutmu berdiam, tubuhmu mendendam. Pada gerakku, pada lenguhku, pada ucap rindu di sela pahamu, dan api yg tadi siang padam. Dan ya, sekali lagi, sayang, kamu menang. Malam dipihakmu sekarang. Mungkin jika bertemu pagi lagi kamu hilang, aku tetap senang. Karena aku merasa benar melakukan hal yg salah sekarang.
Lima belas menit
Perlahan dalam kesunyian kenangan. Hanya gambar bergerak tanpa suara yg diperagakan. "seperti pantonim", pikirku singkat. Lambat laun mengalun dalam buainya hangat. Menyentuh telapak kaki perlahan dan berhenti di pangkal paha. Mengulum lembutlah pada kenangan memainkan wayangan mesum. Kocok perlahan seiring rindu yg muncul untuk merasakannya sekali lagi. Sekali lagi untuk diam disini, sekali lagi menemani birahi, sekali lagi menyentuh pipi dan turun ke bibir. Alunan dan detak saling menyahut akhirnya ku temui irana pada bait terakhir untuk tuntaskan segala. Dan rindu yang tertahan terlepas sehela nafas... Bibit-bibit penghujam rindu yg harusnya merebah diatas pusarmu, dulu. Melalang buana pula khayalku dan bertemu sesal berkelanjutan. "lagi lagi lagi... Gila...", ucapku mengusap sisanya. Dan tarik mundur lima belas menit sebelumnya, pada mulanya aku memikirkan kamu.
Minggu, 15 Desember 2013
Pada keduaku
Dua jiwa satu badan. Kanan kiri, atas bawah, hitam putih pada wadah yg abu-abu. "biarkan aku berbicara", bentaknya dalam kepala. "diam! Diam! Diam!", balas pula satuku yg lain. Mereka saling memaki satu sama lain. Berisik. Entah aku yg mana, entah aku yg bagaimana tapi ujungnya pasti lagi terluka lagi.
Sebentar lagi dia menang, aku pun tertawa, "aku menang! Aku segalanya aku!" tak lagi dapat berbicara sampai satu detik berubah kebelakang, aku lagi menang, "sudahlah...dunia terlalu buatku lelah.." ujarku mengenang...
Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.
Tiap malam silih berganti antara satu dan satu yg lain. Cukup jangan ada yg ketiga sebelum aku benar2 gila. Entah sudah malam keberapa aku terbawa kemana-mana. Berbicara dengan yg lain pun percuma, mereka menghakimiku yg terlahir kafir. Mereka bilanglah aku haram, bilanglah aku jauh dari Tuhan. Seakan mengenal-Nya lebih dari siapapun. Tapi kutuk inilah berkat ku dari-Nya. Pikirku. Kenapa? Entahlah... Mungkin biar aku gak sendirian. Hehehe
Langganan:
Postingan (Atom)
