Kamis, 19 Desember 2013
Ranjang senang
Waktu berputar pada ruang yg jadi porosnya. Kian mengalun pada semesta yg bersorak untuk berduka pun juga sebaliknya. "dunia bukan soal hitam atau putih, sayang", ujarmu merebah disampingku tanpa baju. Bulan menjelma menjadi kamu. Perlahan memanjat dari ranting ke ranting mencapai posisi tertinggi dan (semoga) bukan untuk saling menghakimi. Kitalah salah, kitalah benar. Berpendar gemerlap bersama peluhmu turun dari dada yg naik dan turun. Mungkinkah aku sedang senang merasa sedih atau sedang sedih merasa senang? Menyaksikanmu sayang, buatku hilang ingatan. Aku ingin kamu pulang, menjaga anakmu yg tidurnya telanjang. Aku juga ingin kamu menggelinjang, lenguh rindumu di ranjang. Aku hanya melakukan apa yg semesta bilang, tanpa serta merta meragukan kesalahanku yg berulang-ulang. Tanpa tanda tanya pun hanya tanda kecup pada mata, sayang, jelaskan dulu mengapa kamu disini sekarang? Bukankah pada akhirnya bulan pun hilang? Mulutmu berdiam, tubuhmu mendendam. Pada gerakku, pada lenguhku, pada ucap rindu di sela pahamu, dan api yg tadi siang padam. Dan ya, sekali lagi, sayang, kamu menang. Malam dipihakmu sekarang. Mungkin jika bertemu pagi lagi kamu hilang, aku tetap senang. Karena aku merasa benar melakukan hal yg salah sekarang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar