Rabu, 16 Oktober 2013

Hujan kenangan

Jika rindu adalah waktu, aku punya selamanya untukmu. 
Karena pernah ada satu malam ketika kita saling takut kehilangan

Jika cinta adalah sakit, akan ku buat kau mati menjerit
Karena pernah ada satu pagi kita bersyukur saling memiliki

Dan kau sekarang tau rasanya,
Bagaimana dulu,
Peluk demi peluk berlanjut cium sampai ke selimut yang kusut,
Berganti peran sehingga berganti pagi

Dan kau tau bagaimana aku,
Kematian jiwaku adalah kehilanganmu dan kehidupanku adalah mengenangmu,
Deru penghujan yang turun dari ujung mata. 

Rabu, 28 Agustus 2013

Lamunan Sang Wisanggeni

Duduk termangu dia yang beralaskan bintang. Orang berkata dia bulan, sebagian darinya selalu hilang. Entah sisi gelap yang dia sembunyikan, entah luka, entah pula kenangan. Tak terselami lagi pikirnya sunyi, dia diam diantara awan, dia kemilau di kelamnya malam. Andai aksara yang kususun adalah tangga, bisa saja dia menuruni tangga itu dan menemuiku malam ini. Tapi apa daya, tinggiku semampai dan tanganku terlalu pendek untuk memeluk pundaknya.  Pun dia juga enggan mengotori telapak kaki cikal bakal surga karena menginjak kata lidahku. Bulan lagi termangu, sendinya ngilu. Dingin sedinginnya malam tak secantik sedihnya yang makin membiru. Apa derita yang membuatnya indah? Apa luka yang membuatnya mempesona? Merah merona sewarna darah bibirnya. Hidung mancung yang membuat daguku ingin meluncur turun dari situ untuk bertamu di buah dadanya. 
Kemilau langsat kulitnya melebihi gambar shinta di ramayana. Aku yakin rahwana berpikir dua kali untuk menculik shinta setelah melihat dia. Dan mungkin batara kala akan diam mengikut semesta jika mendengar dia berbicara. Bulan jangan diam saja. Bulan kemari saja. Tak peduli dikata hina, dimata dewi amba dan rahwana cintaku sempurna. Akan ku lumat semesta jadi abu di neraka jika tidak membiarkan kita bersama. 

Kamis, 08 Agustus 2013

Cerita di segelas kopi

Cerita di segelas kopi. Pada mulanya aku menertawakan waktu yg berjinjit-jinjit kecil di depan mataku. Lambat, pelan dan terlihat bodoh. Entah menertawakan apa dan kenapa, aku mempertanyakan apa yang akan ku apakan. Berlanjutlah segelas kopi sesayup memanggil bibirku yang dulu sering kamu kulum. Seteguk.... Sekejap menguap di kerongkongan dan seperti kepulan asap, uap kopinya masuk menyelinap ke otak. Menstimulasi roda gigi dan lekukan otakku yang basah. Serasa dia adalah kuas dan otakku adalah hamparan kanvas yang luas, seluas laut biru kesukaanmu sayang. Segores cat nya warna abu-abu, dari situ muncul sesosok manusia yang menyerupai aku. Tak ayal aku terpingkal, bagaimana bisa satu warna menggambarkan diriku yg kau bilang rumit dulu? Entahlah sayang, aku lupa bagaimana cara otakmu bekerja. Lalu berlanjut goresan kedua dibawah goresan abu-abu, kini warna biru yg muncul. Dan dari sana mengalirlah lautan berwarna biru. Laut yg sama ketika kau membasuh kakimu di malam itu. Ya, laut yg sama. Tak berhenti disitu, goresan ketiga berlanjut, kini berwarna merah. Membentuk kamu. Membentuk jelas dirimu, lekuk tubuh kurusmu dan lekuk di pipimu yg selalu ingin ku robek dan ku simpan di kantung celana jins ku. Aku melihat antara abu-abu, biru, dan merah tak mungkin menyatu. "nabrak bor!", begitu kata temanku yg gaul. Tak mungkin cocok untuk menyatu. Tak mungkin bs membentuk warna yg baru seperti biru dan kuning jika menyatu. Andai aku kuning, andai aku adalah warna lain... Setidaknya salah satu warna di pelangi yg pernah kita lihat di atap rumahmu waktu itu. Andai saja..... Mungkin hanya warna pekat kopi yg bs mendekati masuk ke kepalaku, seperti segelas kopi ini yg baru seteguk ku minum. Aku pula tak mampu melihat tangan yg menggerakkan kuas uap itu didalam otakku, bahkan dengan bagian bola mata terbasahku. Aku buta di ranah dunia, serasa aku terlahir tanpa retina yg mereka bilang realita. Entah sihir apalagi, sayang yg akan dimainkan pada tegukan ke dua, tp aku belum melihat goresan keempat didalam kepalaku yg berbentuk karang berwarna abu-abu

Minggu, 14 Juli 2013

Suatu ketika

Pernah ada suatu ketika ketika tanya tak lagi berguna.

"aku jelas tau apa isi pikiranmu...",
Kataku berbisik

"terang saja sayang, aku yg mendiami isi kepalamu",
Katamu tenang

Dan suatu ketika itu hanya terjadi dulu, suatu ketika dimana kita selalu bertemu. Dan ketika sekarang kita tak lagi sering bertemu, kira sekarang tak lagi dikatakan satu. 

Dulu, aku selalu bertanya, 
"lagi apa dimana sama siapa?"

Dan secara otomatis otakku menjawab sama persis seperti jawabanmu,

"dirumah, tidur, sendiri..."

............

Keadaan berubah, sayang, tak tau lagi kamu sedang apa dimana sama siapa. 
Meskipun otak ku otomatis menjawab,

"lagi main diluar bersama dia"

.......

Sayang, mungkin benar kata orang jaman dulu. 

"jika kau tak bisa mengusir orang lain didalan kepalamu, mungkin memang disitu tempat dia seharusnya berada"

Senin, 01 Juli 2013

Serasa

Serasa ada, serasa tak ada
Serasa tak bertemu
Serasa tak kunjung usai

Serasa maut melewati,
Serasa melupakanku

Ku tanya maut,
"Hey, bodoh kau melewatkanku?"
Maut tak mejawab,
Serasa tak mendengar

Serasa nafasku berasap
Serasa mulutku meleleh
Serasa nyata dalam ketiadaan
Serasa hilang dan tersesat

Entah terasa atau tak kurasa
Tangan-Mu yg inginnya aku melingkar di pundakku
Seinginnya dipucuk rindu yg tak bertamu
Sejatinya asa yg ku damba

Serasa bermata namun tak melihat
Serasa berkulit namun tak menyentuh

Aku buta di realita dunia,
Bola mata basahnya serasa mengering
Aku hina di penghujung muda,
Mendamba jiwa sempurna dan raga yg indah

Aku hilang, seiring kepulan asap
Aku habis, seiring bir di gelas

Serasa ada namun tiada
Serasa kosong yg nyatanya penuh terisi

Serasa gila aku dipermainkan realita

Abu Satu Waktu

Ada yang bilang hitam ada yang bilang putih.
Begitupun intensitas warna, ada yang bilang gelap ada yang bilang terang
Entahlah, sayang, apa salah Tuhan menciptakan perbedaan atau kita yang belum bs mencintai perbedaan itu sendiri?
Berbeda belum tentu saru tp berbeda pun belum tentu satu.
Sebab ada tertulis, "gelap tak akan bs menyatu dengan terang, seperti yang percaya tak akan bisa bersama dengan yang tak percaya"
Apa perpaduan gelap dan terang bisa dikatakan senja? Aku suka senja. Temaram, tidak gelap tidak juga terang.
Ataukah pagi? Entahlah, sayang, aku lebih suka menyebutnya senja temaram.
Banyak puisi lahir disitu, kala pun mengadu pada perbedaan yang ternyata tabu.
Jadi siapa bilang perbedaan itu baik? Mungkin harusnya dunia tidak warna-warni. Dunia harusnya abu-abu, bukan merah atau ungu. Karena benar dan salah pun relatif, tergantung dari segi perspektif.
Dengan dunia yang abu-abu, kita bisa melebur jadi satu. Tanpa tanya, tanpa mata, tanpa mulut yg berbicara beda, kitalah satu.. Bukan dua, tiga, lima, atau berapapun itu semua.
Dan jika masih kita berbeda, aku mungkin tak bisa. Yang satu memang hanya Dia dengan nama yang berbeda, katamu.
Tapi jika kita masih berbeda, aku pasti tak bisa. Karena aku ingin ada aku, kamu, dan upah-Nya yg jd benih tumbuh diperutmu nanti memuji nama-Nya yg satu dengan mataku yg abu-abu.
Pun jikalah perbedaan adalah sebuah dosa, apalah artinya surga jika katanya dosa itu indah? 
Dunia paradoks, penuh tua-tua dengan pikiran tak berguna.
Sayang, andaikan perbedaan itu bukanlah sebuah dosa, akan kubuat satu tempat yang disebut neraka untuk kita berdua didalamnya
Seketika itu juga nyala apinya membakar perbedaan sampai abu kita melebur jadi abu satu waktu.

Kamis, 08 November 2012

paman gober for dystopia

Jika aku tak bisa mencintaimu, sayang, aku akan menghancurkanmu Berserakan dan bersenggama diantara puing hati yg telah kamu lupakan, sayang. Jika aku tak bisa merindukanmu, sayang, aku akan meniadakanmu Bersentuhan lara dan senduku yg menggebu padamu, sayang. Aku pun berkaca pada kaca buram yg pecah, tentang keadaanku yg sempat membuatmu luluh lantah, Tiada kata yg tak pantas, segala kutuk dan tulah pun sudah ku ungkapkan. Peluhku, darahku, rinduku, cintaku, hidupku, matiku, sudah kutanggalkan Dan sejatinya ku jadikan itu sebagai tempat terakhirmu untuk bersuka Inilah duniaku sekarang, tanpamu. Karena yg aku tau, begitu bersamamu, duniaku itu kamu..

Pengikut