Senin, 01 Juli 2013

Abu Satu Waktu

Ada yang bilang hitam ada yang bilang putih.
Begitupun intensitas warna, ada yang bilang gelap ada yang bilang terang
Entahlah, sayang, apa salah Tuhan menciptakan perbedaan atau kita yang belum bs mencintai perbedaan itu sendiri?
Berbeda belum tentu saru tp berbeda pun belum tentu satu.
Sebab ada tertulis, "gelap tak akan bs menyatu dengan terang, seperti yang percaya tak akan bisa bersama dengan yang tak percaya"
Apa perpaduan gelap dan terang bisa dikatakan senja? Aku suka senja. Temaram, tidak gelap tidak juga terang.
Ataukah pagi? Entahlah, sayang, aku lebih suka menyebutnya senja temaram.
Banyak puisi lahir disitu, kala pun mengadu pada perbedaan yang ternyata tabu.
Jadi siapa bilang perbedaan itu baik? Mungkin harusnya dunia tidak warna-warni. Dunia harusnya abu-abu, bukan merah atau ungu. Karena benar dan salah pun relatif, tergantung dari segi perspektif.
Dengan dunia yang abu-abu, kita bisa melebur jadi satu. Tanpa tanya, tanpa mata, tanpa mulut yg berbicara beda, kitalah satu.. Bukan dua, tiga, lima, atau berapapun itu semua.
Dan jika masih kita berbeda, aku mungkin tak bisa. Yang satu memang hanya Dia dengan nama yang berbeda, katamu.
Tapi jika kita masih berbeda, aku pasti tak bisa. Karena aku ingin ada aku, kamu, dan upah-Nya yg jd benih tumbuh diperutmu nanti memuji nama-Nya yg satu dengan mataku yg abu-abu.
Pun jikalah perbedaan adalah sebuah dosa, apalah artinya surga jika katanya dosa itu indah? 
Dunia paradoks, penuh tua-tua dengan pikiran tak berguna.
Sayang, andaikan perbedaan itu bukanlah sebuah dosa, akan kubuat satu tempat yang disebut neraka untuk kita berdua didalamnya
Seketika itu juga nyala apinya membakar perbedaan sampai abu kita melebur jadi abu satu waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut