Kemilau langsat kulitnya melebihi gambar shinta di ramayana. Aku yakin rahwana berpikir dua kali untuk menculik shinta setelah melihat dia. Dan mungkin batara kala akan diam mengikut semesta jika mendengar dia berbicara. Bulan jangan diam saja. Bulan kemari saja. Tak peduli dikata hina, dimata dewi amba dan rahwana cintaku sempurna. Akan ku lumat semesta jadi abu di neraka jika tidak membiarkan kita bersama.
Rabu, 28 Agustus 2013
Lamunan Sang Wisanggeni
Duduk termangu dia yang beralaskan bintang. Orang berkata dia bulan, sebagian darinya selalu hilang. Entah sisi gelap yang dia sembunyikan, entah luka, entah pula kenangan. Tak terselami lagi pikirnya sunyi, dia diam diantara awan, dia kemilau di kelamnya malam. Andai aksara yang kususun adalah tangga, bisa saja dia menuruni tangga itu dan menemuiku malam ini. Tapi apa daya, tinggiku semampai dan tanganku terlalu pendek untuk memeluk pundaknya. Pun dia juga enggan mengotori telapak kaki cikal bakal surga karena menginjak kata lidahku. Bulan lagi termangu, sendinya ngilu. Dingin sedinginnya malam tak secantik sedihnya yang makin membiru. Apa derita yang membuatnya indah? Apa luka yang membuatnya mempesona? Merah merona sewarna darah bibirnya. Hidung mancung yang membuat daguku ingin meluncur turun dari situ untuk bertamu di buah dadanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar