Kamis, 15 Desember 2016
Seribu Pintu
Kesedihan melamun didepan hidungnya, selaksana angsa berbulu rindu.
"Mengapa ragu mencintai, sayangku? Apakah karena sakit adalah akhir yang akan kamu tunggu?".
Cinta yang kita tahu tidak selalu berujung sendu, sayangku.
Mungkin pada beribu detik waktu berlalu kita berpapasan dengan asa yang putus dan pertanyaan yang tabu,
"Apa selalu sedih yang akan menunggu?".
Sayang, biar dikata candu pun sakit bukanlah cinta yang pantas di rengkuh, cinta adalah penentu.
Kemari, bersihkan sisa sayap patahmu. Kamu adalah si pemalu yang mengangkat dagu, penyendiri ditengah hingar bingar, yang bertelanjang bulat dan tidak memiliki retina yang kata orang realita.
Ragumu mengecap hal baru bukanlah penentu hidupmu, karena entah pada pintu keberapa yang kamu buka dan berisi sakit yang pilu, akan ada satu pintu yang membawamu ke dunia baru tak berdebu dari masalalu. Sampai di ujung pintu itu kita bertemu, sayang, aku akan membukakannya untukmu dan berkata,
"Jika ini bukan pintu terakhirmu untuk menangis, aku ada dibalik pintu ini dan menghapus airmatamu".
Berlalu pun doa akan kusebut namamu dan yakinlah, sayang, cintamu adalah penentu bukan ragumu.
Rabu, 19 Oktober 2016
simbiosis
Kamis, 06 Oktober 2016
Melampaui
Kamis, 07 Juli 2016
Lima nyawa
Senin, 27 Juni 2016
Menyerahlah sayang
Senin, 25 April 2016
Balon udara
"Terbang.. Terbang.. Tinggi..!!", bocah itu berlari membawa balonnya keluar rumah. Imajinasinya bersemayam didalam balon dan menarik tangannya hingga terbang tinggi ke angkasa. Rianglah hatinya, bahagialah isi dunianya. Dia lupa pulang. Sampai pada tingkat langit ke tujuh balonnya pecah, hanya tangis yg tersisa. Bocah itu baru lima tahun, dia jatuh seakan secorek kertas. Malang melintang dia hilang entah kemana.. Terbawa angin percuma sampai bertahun-tahun sudah. Suatu ketika dia terbiasa terbawa arus antah berantah, dia melewati lagi rumah yang dia tinggalkan dulu. Melihat orangtuanya (masih) bahagia, tanpa dirinya. Tak ada tangis ataupun kerut bekas sedih di dahi mereka. Dan membayangkan sulitnya hidup tanpa orangtua membuatnya gila, tapi memikirkan orangtua yang lupa anaknya hilang buat dia hilang pikiran. "Lalu biar saja Tuhan jadikanku angin..", doanya yg mengambang diangkasa. Pun juga sesaat angin membawa doa itu ke telinga Sang Dia, Si Maha Besar itu dan mengabulkannya secara cuma-cuma. Inilah balasannya anak nakal yang tidak pernah pulang kerumah.




