Kamis, 15 Desember 2016

Seribu Pintu

Kemuning senja, ranum dilihatnya biar dikata orang berwajah biru.
Kesedihan melamun didepan hidungnya, selaksana angsa berbulu rindu.

    "Mengapa ragu mencintai, sayangku? Apakah karena sakit adalah akhir yang akan kamu tunggu?".

Cinta yang kita tahu tidak selalu berujung sendu, sayangku.
Mungkin pada beribu detik waktu berlalu kita berpapasan dengan asa yang putus dan pertanyaan yang tabu,

    "Apa selalu sedih yang akan menunggu?".

Sayang, biar dikata candu pun sakit bukanlah cinta yang pantas di rengkuh, cinta adalah penentu.
Kemari, bersihkan sisa sayap patahmu. Kamu adalah si pemalu yang mengangkat dagu, penyendiri ditengah hingar bingar, yang bertelanjang bulat dan tidak memiliki retina yang kata orang realita.

Ragumu mengecap hal baru bukanlah penentu hidupmu, karena entah pada pintu keberapa yang kamu buka dan berisi sakit yang pilu, akan ada satu pintu yang membawamu ke dunia baru tak berdebu dari masalalu. Sampai di ujung pintu itu kita bertemu, sayang, aku akan membukakannya untukmu dan berkata,

    "Jika ini bukan pintu terakhirmu untuk menangis, aku ada dibalik pintu ini dan menghapus airmatamu".

Berlalu pun doa akan kusebut namamu dan yakinlah, sayang, cintamu adalah penentu bukan ragumu.


Rabu, 19 Oktober 2016

simbiosis

"Tulislah sesuatu untukku"

  "apa dan bagaimana?"

"entahlah kamu yang lebih tahu"
 
  "apa kamu tidak bosan?"


........

Seperti itu lalu kamu menghilang menarik semua tulisan.
Seakan sebuah doa yang terhenti sebelum mengucapkan kata amin 

kamu ingin aku menulis? tahukah kamu bagaimana penampilan rahim yang melahirkan tulisanku?
Dia kelabu! bahkan dinding didalamnya berwarna biru, bayangkan tulisanku merangkak keluar dari situ dan mencungkil setiap mata yang melihatnya sedang telanjang dada.

ada jejak berdarah di langkah pertamanya.

tunggu,

tunggu dulu,

sebentar biar ku tarik nafas, aku sedikit keterlaluan menggambar setiap anak yang kulahirkan.
seharusnya mereka manis dan langkah kecilnya membuat gemas.

seharusnya.

baiklah,

begini mungkin yang seharusnya terjadi. aku akan mencintaimu lewat tulisanku.
semua berawal dari dalam kepalaku, letaknya di bagian otak insula dan striatum.
bagian itu menikmati potongan syandu parasmu, mungkin sebaiknya seperti itu.
melihatmu sepotong dari keutuhan jauh lebih cukup daripada tidak melihatmu sama sekali.

dari sana aku mulai menulis, aku menulis kehilangan yang belum pernah kudapatkan.
sampai tulisan selesai aku akhirnya menemukanmu dan lucunya seketika kehilangan diriku sendiri

kalap? mungkin.

lalu kubawa penghapus dan menghapus dirimu, sampai yang kuhapus terlalu jauh
aku menghapus diriku sendiri.

sama saja.

lihat kan? keutuhanku adalah potongan dirimu dan tulisanku, sayang.

dan semua kisah memiliki akhir, bahkan selamanya pun harus berakhir. entah dimalam atau pagi keberapa harusnya akhir itu menambatkan perahunya.

aku merasakan takut memikirkan itu. aku takut ini berakhir. aku takut kita berakhir. 
aku takut semua selesai jauh sebelum dimulai.

lebih dari itu semua, aku takut kehilanganmu.

takut sekali.




Kamis, 06 Oktober 2016

Melampaui

Entah sudah sekian berapa lama aku terakhir menulis. rasanya ada kelu di lidah dan kaku di tiap jemariku. bukannya aku tak mampu berkata manis lagi, sayang, tapi aku lelah hanya dengan berkata. aku ingin bertemu.

kamu tahu ada hati yang terselip di setiap kata dan spasi yang ku ketik. aku ingin menyusun hatinya utuh dan langsung kubawa ke depan pintu kamarmu. karena mungkin akan jauh lebih cepat menggunakan kakiku sendiri untuk membawanya kesana daripada berdoa terus setiap malam pada Tuhan agar Dia menumbuhkan kaki di setiap tulisanku. aku ingin lebih cepat bertemu. memotong waktu dengan pedang yang lebih tajam dari kata rindu. aku ingin kamu. terdengar seperti anak kecil egois yang berlari ditengah gerimis hujan dan menyanyikan lagu cinta picisan. 

pujaanku,

pernah ada satu waktu aku memejamkan mata dan mulai berhitung, entah pada hitungan ke berapa kamu ada didepanku?
pernah juga ada satu hari dimana aku terlalu sibuk menyingkirkan senyummu yang sudah ku tempel disetiap sentimeter dinding kamarku.
pun entah berapa pintu telah kubuka agar bisa menemukan dimana hatimu berada.

senyummu sayang yang membuatku mencandu.
candu yang bahkan lebih tabu daripada menginginkan sesuatu yang bukan milikmu.

ini adalah salah satu dari tujuh dosa terbesar manusia. seakan bangga aku memakainya sebagai kalung piala dan melangkah ke nirwana.
jelaslah, sayang, malaikat melemparku dari ujung atas sana.

aku ingin bertemu,

aku ingin memegang hidungmu,

aku ingin menggigit dagumu,

aku menginginkan semua itu,

aku bahkan bermimpi ada disitu dan kita menertawakan kenyataan yang menungguku bersama matahari, lalu kamu sempat berkata, 

                "jangan terbangun. akan kupatahkan kaki matahari agar dia tidak bisa memanjat ke jendela kamar dan membangunkanmu". 

disitu aku hanya tersenyum melihatmu karena aku menginginkan lebih. aku mau lebih dari itu.

aku ingin bertemu,

aku ingin memegang hidungmu,

aku ingin menggigit dagumu,

aku menginginkan semua lebih dari pada itu.

aku menginginkan kamu.


Kamis, 07 Juli 2016

Lima nyawa

Puisi kan abadi jika diingat. Apa artinya keabadian jika kekuatannya tak bertuan? Lalu kuhembus nyawa ke setiap huruf dan katanya. Agar dikehidupannya yang lanjut dia mampu menemukanmu dan mengingatkan. 
Saat doaku terkabul, puisiku akan berkata dengan bangga, "aku ada". Biar dia memijit kepalamu dan kakimu yang lelah seperti kebiasaan kita dulu  dirumah. 
Aku pun yakin, sayang, sampai dikehidupan kelimamu pun matamu akan mengenali puisiku karena rasa dan tintanya masih nyata. 
Hingga di kehidupan selanjutnya, jika aku memiliki lima nyawa, aku akan mencintai lima kali orang yang sama. 

Senin, 27 Juni 2016

Menyerahlah sayang

Bertamu kemari, sayang, pintu untukmu masih terbuka
Karena lantunan lagu untukmu masih ku gumam waktu membuat makan malam

Lelahkah kakimu, sayang? Sini bawa milikmu yang sepasang karena milikku telah hilang

Menyerahlah, sayang, pulanglah

Perasaan sudah ku paku bintang dilangit untuk menunjukkan arah pulang
Tapi mengapakah kamu tidak segera datang?

Menengadah angkat dagumu lihat keatas, itu bulanmu yang kuberikan padamu dulu
Sedangkan aku masih menunggu menunduk kebawah karena bintang bulan dan alas permadani langit tidak terlalu indah jika bibirmu ada dibawah daguku

Dan menyerahlah, sayang, aku tahu cara untuk menemukanmu..

Senin, 25 April 2016

Balon udara

"Terbang.. Terbang.. Tinggi..!!", bocah itu berlari membawa balonnya keluar rumah. Imajinasinya bersemayam didalam balon dan menarik tangannya hingga terbang tinggi ke angkasa. Rianglah hatinya, bahagialah isi dunianya. Dia lupa pulang. Sampai pada tingkat langit ke tujuh balonnya pecah, hanya tangis yg tersisa. Bocah itu baru lima tahun, dia jatuh seakan secorek kertas. Malang melintang dia hilang entah kemana.. Terbawa angin percuma sampai bertahun-tahun sudah. Suatu ketika dia terbiasa terbawa arus antah berantah, dia melewati lagi rumah yang dia tinggalkan dulu. Melihat orangtuanya (masih) bahagia, tanpa dirinya. Tak ada tangis ataupun kerut bekas sedih di dahi mereka. Dan membayangkan sulitnya hidup tanpa orangtua membuatnya gila, tapi memikirkan orangtua yang lupa anaknya hilang buat dia hilang pikiran. "Lalu biar saja Tuhan jadikanku angin..", doanya yg mengambang diangkasa. Pun juga sesaat angin membawa doa itu ke telinga Sang Dia, Si Maha Besar itu dan mengabulkannya secara cuma-cuma. Inilah balasannya anak nakal yang tidak pernah pulang kerumah.

Taxi dari masalalu

Rabu, 06 April 2016

Kepada ombak, dari karang

Kepada ombak dari karang. 
Aku diam kalamu menghantam.
Aku pun lacur pada deburmu yang hancur. 
Jantungmu, tubuhmu, hatimu, lukamu yang kulihat dari ujung mata menyentuh kaki langit. 
Katakan aku keras, tapi rasamu berbeda. Menyentuh celah paling bawah. Mengikis tangis dengan tinju paling manis. 
Sayang, kala gerimis memandang pada resah yang selalu datang, kala mana saatnya takdir bisa ku bawa pulang? Takdir untuk kita yang tak terpisahkan, takdir untuk segala yang tak ingin dilupakan. 
Apalah aku tanpamu, apalah kamu tanpaku
Kodratnya kepada ombak dari karang tak mampu dipisahkan
Jikalah terpisah, sayang, semesta kan terguncang, bumi kan beranjak dan langitpun bergoyang 
Kepada ombak dari karang

Jumat, 29 Januari 2016

Kecuali waktu

Perutku buncit, kulitku menghitam
Pundi - pundi tak cukup kujadikan tangga untuk kamu menggapai bintang

Aku selalu memesan bintang dan bulan untukmu, namun yang kupesan tidak kunjung datang

Pialaku menghilang.. 

Aku pun makin pelupa sekarang

Dosa menutup mataku dan menyisakan satu lubang hanya untuk melihat dirimu

Maafkan aku.. 

Jika aku mati berkali - kali pun tidak cukup bagimu untuk percaya padaku 

Maafkan aku..

Jika dosa adalah hakim yang tega, maka aku sudah kehilangan segala

Kini aku cuma punya waktu
Entah kapan habis, aku pun kehabisan percaya diri

Aku hanya percaya dosa

Ini karena aku brengsek

Mereka menempel diseluruh badan, tubuhku yang kurus terasa berat seperti babi.

Maafkan aku..

Aku tak punya apapun lagi selain waktu.. 

Kamis, 28 Januari 2016

Meja untuk berdua

"Meja untuk berdua? Bagaimana jika cuma aku sendiri?", bisikku kepada pelayan bar. Jangan egois, karena tidak semua makhluk diciptakan sepasang. Pasanganku mungkin sudah tertabrak bis! Kataku dalam hati. Malam semakin keras bernyanyi, alunan lagunya serasa mampu menciptakan ilusi. Tak lama pelayan bar membawa segelas bir, sehirup, dua gelas berlanjut. "Mulutku bau bir!", pikirku menggelitik telingaku sendiri. Namun bukan baunya yang buatku mencandu, tapi pahitnya itu yg buatku terus dan terus meracau rindu. "Entah sepahit apa rasa bir hitam, masih lebih pahit jika rasanya kamu abaikan", begitulah semesta berkata dari buih di gelas yang kosong. 

"Why do birds suddenly appear everytime you are near...", senandung biduan itu terdengar lembut masuk ke mataku. 

Dan, "just like me they long to be.. Close to you...", gumamku tersipu malu. 

Taukah kau ini lagu kita dulu? Bagaimana aku menunggu dirimu di depan teras rumahmu? Berpuluh kilometer bukanlah hambatanku untuk bertamu di pusarmu. Sampai mata bertemu mata dan bersambut dengan lidah yang saling memagut, beratus tahun cahaya pun akan ku kebut ke rumah seribu peluk. 

Hahaha,

Kangen buatku lupa aku luka. Kini kamu entah dimana, sayang. Karena di meja untuk berdua, hanya aku dan kangenku yang saling berdansa.

Pengikut