kamu tahu ada hati yang terselip di setiap kata dan spasi yang ku ketik. aku ingin menyusun hatinya utuh dan langsung kubawa ke depan pintu kamarmu. karena mungkin akan jauh lebih cepat menggunakan kakiku sendiri untuk membawanya kesana daripada berdoa terus setiap malam pada Tuhan agar Dia menumbuhkan kaki di setiap tulisanku. aku ingin lebih cepat bertemu. memotong waktu dengan pedang yang lebih tajam dari kata rindu. aku ingin kamu. terdengar seperti anak kecil egois yang berlari ditengah gerimis hujan dan menyanyikan lagu cinta picisan.
pujaanku,
pernah ada satu waktu aku memejamkan mata dan mulai berhitung, entah pada hitungan ke berapa kamu ada didepanku?
pernah juga ada satu hari dimana aku terlalu sibuk menyingkirkan senyummu yang sudah ku tempel disetiap sentimeter dinding kamarku.
pun entah berapa pintu telah kubuka agar bisa menemukan dimana hatimu berada.
senyummu sayang yang membuatku mencandu.
candu yang bahkan lebih tabu daripada menginginkan sesuatu yang bukan milikmu.
ini adalah salah satu dari tujuh dosa terbesar manusia. seakan bangga aku memakainya sebagai kalung piala dan melangkah ke nirwana.
jelaslah, sayang, malaikat melemparku dari ujung atas sana.
aku ingin bertemu,
aku ingin memegang hidungmu,
aku ingin menggigit dagumu,
aku menginginkan semua itu,
aku bahkan bermimpi ada disitu dan kita menertawakan kenyataan yang menungguku bersama matahari, lalu kamu sempat berkata,
"jangan terbangun. akan kupatahkan kaki matahari agar dia tidak bisa memanjat ke jendela kamar dan membangunkanmu".
disitu aku hanya tersenyum melihatmu karena aku menginginkan lebih. aku mau lebih dari itu.
aku ingin bertemu,
aku ingin memegang hidungmu,
aku ingin menggigit dagumu,
aku menginginkan semua lebih dari pada itu.
aku menginginkan kamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar