Kamis, 15 Desember 2016

Seribu Pintu

Kemuning senja, ranum dilihatnya biar dikata orang berwajah biru.
Kesedihan melamun didepan hidungnya, selaksana angsa berbulu rindu.

    "Mengapa ragu mencintai, sayangku? Apakah karena sakit adalah akhir yang akan kamu tunggu?".

Cinta yang kita tahu tidak selalu berujung sendu, sayangku.
Mungkin pada beribu detik waktu berlalu kita berpapasan dengan asa yang putus dan pertanyaan yang tabu,

    "Apa selalu sedih yang akan menunggu?".

Sayang, biar dikata candu pun sakit bukanlah cinta yang pantas di rengkuh, cinta adalah penentu.
Kemari, bersihkan sisa sayap patahmu. Kamu adalah si pemalu yang mengangkat dagu, penyendiri ditengah hingar bingar, yang bertelanjang bulat dan tidak memiliki retina yang kata orang realita.

Ragumu mengecap hal baru bukanlah penentu hidupmu, karena entah pada pintu keberapa yang kamu buka dan berisi sakit yang pilu, akan ada satu pintu yang membawamu ke dunia baru tak berdebu dari masalalu. Sampai di ujung pintu itu kita bertemu, sayang, aku akan membukakannya untukmu dan berkata,

    "Jika ini bukan pintu terakhirmu untuk menangis, aku ada dibalik pintu ini dan menghapus airmatamu".

Berlalu pun doa akan kusebut namamu dan yakinlah, sayang, cintamu adalah penentu bukan ragumu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut