Kamis, 28 Januari 2016

Meja untuk berdua

"Meja untuk berdua? Bagaimana jika cuma aku sendiri?", bisikku kepada pelayan bar. Jangan egois, karena tidak semua makhluk diciptakan sepasang. Pasanganku mungkin sudah tertabrak bis! Kataku dalam hati. Malam semakin keras bernyanyi, alunan lagunya serasa mampu menciptakan ilusi. Tak lama pelayan bar membawa segelas bir, sehirup, dua gelas berlanjut. "Mulutku bau bir!", pikirku menggelitik telingaku sendiri. Namun bukan baunya yang buatku mencandu, tapi pahitnya itu yg buatku terus dan terus meracau rindu. "Entah sepahit apa rasa bir hitam, masih lebih pahit jika rasanya kamu abaikan", begitulah semesta berkata dari buih di gelas yang kosong. 

"Why do birds suddenly appear everytime you are near...", senandung biduan itu terdengar lembut masuk ke mataku. 

Dan, "just like me they long to be.. Close to you...", gumamku tersipu malu. 

Taukah kau ini lagu kita dulu? Bagaimana aku menunggu dirimu di depan teras rumahmu? Berpuluh kilometer bukanlah hambatanku untuk bertamu di pusarmu. Sampai mata bertemu mata dan bersambut dengan lidah yang saling memagut, beratus tahun cahaya pun akan ku kebut ke rumah seribu peluk. 

Hahaha,

Kangen buatku lupa aku luka. Kini kamu entah dimana, sayang. Karena di meja untuk berdua, hanya aku dan kangenku yang saling berdansa.

1 komentar:

  1. puisinya cakeep2 mas, manteep.
    silahkan berkunjung ke rumah puisi saya: http://willy-akhdes.blogspot.co.id

    BalasHapus

Pengikut