Senin, 20 Februari 2012

karang dasar laut

Berbeda dunia. jika di duniamu dia adalah pendosa. Cinta menyendiri dan mencari tempat untuk diri pribadi
Mungkin digambarkan karang. Ya, karang didasar laut.
Mungkin pula karang laut dulunya adalah manusia. Orang-orang berdosa yg dilempar Tuhan kedasar neraka. Seperti malin kundang contohnya.
Diam, tak bergerak, dalam, bahagia didasar paling mendasar.
Jika matahari sampai menembus laut dan menyentuh kulitnya, kamu mungkin bisa melihat warna-warna yg berpadu harmoni di misteri laut dalam.
Merah, jingga, ungu, hitam, kelabu, abu-abu.
Kamu perlu menyelam untuk melihatnya, seberapa sanggupnya kamu menahan napas berbanding lurus dengan seberapa banyak yg kamu tau tentangnya.
Pemandangan 'aneh' yg mungkin tak kamu jumpai di daratan manusia-manusia normal. Karang itu abnormal, ya kan?

Sayang tapi terkadang yg egois pun merusaknya, seperti parade. Parade anak2 manja, tak tau diri, cengeng, dan seperti anak kecil.
Dan itu meninggalkan luka, rusaknya karang yg mungkin tak bisa sembuh.
Tidak berdarah, cuma terasa sakit ngilu pilu hanya dia yg tau.
Bisa saja karang itu muak beranjak keluar dari tempatnya meninggalkan laut dan menarik orang sekitar untuk menikmati apa yg dia punya. Tapi jika demikian, sususan tatanan arus laut berubah, permukaan laut tak lagi sama sedia kala. Apa dia tega? Apa karang harus egois juga?
Seperti kodrat, "anak nakal seharusnya dijauhi" begitu kata orang tua mempertahankan kodrat yg diturunkan petua-petua yg tua-tua.
Jadi biarkan saja dia sendiri didasar sana, sampai memancing perhatianmu dan lihat seberapa setianya duduk didasar sana dan seberapa besarnya dia. Menunggumu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut