Aku terlahir dari situ, puing yang dipaksa jadi istana mewah dengan sesosok perempuan bertudung kasih dan damai sejahtera. Rumahku bukanlah tempat, tapi landasan dimana perempuan itu berada.
Andai aku kura-kura yg membawa rumah ku kemana saja. Tapi aku manusia, aku butuh perempuan itu sebagai penyangga. Sebenarnya aku mungkin adalah sebuah penjara yg memaksa dia untuk tetap ada disini, disebelahku atau mungkin aku yg menunggu untuk dibebaskan?
Rumah, kala senja pada perpisahan yg sengaja dibuat indah. Beralaskan senyuman dan ucapan, "berjuanglah diluar sana".
Rumah, tempat terakhir untuk kaki-kaki yg berdarah. Pada langkah keberapa aku bisa berada disana (lagi) seketika?
Rumah, entah apapun itu maksudnya, suatu saat laki-laki kan pulang membawa sukacitanya kembali bersama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar