P : Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya..
P : Aku jatuh ke perangkapnya..
P : Kemana perginya cahaya? Aku hilang dalam kegelapan..
A : Berharap bayanganmu selalu muncul, dan tak hilang saat gelap
A : Menginginkanmu seperti membutuhkanmu.. Mencarimu menangisimu hingga larut tenggelam karenanya
P : Dalam keadaan itu, aku mengalami ketidak mengertian total tentang cinta yang ku kira ada..
P : Lalu segalanya mendadak menjadi hampa, begitu sepi dari makna..
A : Kukira nyata, dan kukira semestinya..
A : Ini bukan cerita cinta, ini cerita tentang cinta
A : Tentang mereka yg jatuh cinta, menghadapi dan membayar dengan seharusnya
A : Dan ada juga tentang mereka yg menyerah karena mereka tau tak pantas didalamnya
P : Dimana aku sekarang? Nanti juga kau pasti tahu.. Aku tak pernah pergi jauh, kau tau itu. Aku hanya sedang bersembunyi saja.
A : Jatuh kedalam lingkaran yg tak berujung
A : Yang menggambarkan kebahagiaan dan senyuman
P : Sebagian diriku takut melihat cahaya itu lagi, karena aku tau cinta adalah perangkap. Siapa yang akan bertanggung jawab bila pada akhirnya aku jatuh ke dalam kegelapan lagi?
P : Hey, aku tetap mencintaimu..
A : Sayang, cerita tidak selalu berakhir bahagia dan senyuman
A : Biarlah saat kamu datang lagi, aku tetap ada, saat kamu hilang, aku tetap mencari
P : Kau? Menyia-nyiakan waktumu? Jangan tunggu aku. Itu ironi bagiku..
P : Mungkin masalah kita hanya satu, kita sering lupa bahwa cinta adalah kata lain dari saling mendengarkan.. Sebab, mendengarkan adalah saling membuka diri: saling memberi.. Dan menerima dengan tulus.
P : Apalah arti cinta yang sebenarnya? Apakah kamu masih ingin memilikiku?
P : Apakah hasrat itu ada? Jika jawaban mu iya. Aku tak yakin cintamu tulus..
P : Aku memang jauh darimu, keberadaanku saja kamu tak tau.. Aku sengaja.. Menikmati waku di dalam kegelapan ini. Mencandu rindu yang selalu hadir di mimpiku..
A : Seharusnya kamu tau, aku tak biasa tanpa dirimu.. Seharusnya kamu mengerti aku tenggelam terlalu dalam karena rasa itu.
A : Bersenggama dengan kesepian, menunggu datang tiap malam
A : Hingga anganku terbawa kepulan asap yg rokok dalam ruangan sempit
A : Mencari celah untuk keluar... Merasakannya lagi, sekali dua kali, berkali-kali
A : Mencari dirimu..
P : Sungguh, dalam hati, aku mengingatmu, merindumu, memujimu.. Dan bila aku pernah berbuat salah, kata-kataku, tindakanku, pikiranku, emosiku, dan segala hal yang aku lakukan kepadamu dan menyakitimu.. Maafkan aku, sebab bukankah itu pembeda kau dan aku?
P : Lalu 'maaf', sekali lagi kata itu terlontar, dada yang membatu tiba-tiba bergetar, retak dan runtuh.. Bantu aku keluar dari kegelapan ini.
A : Tanganku selalu terbuka untukmu
A : Pintu kamarku tak pernah kukunci untuk dirimu
A : Sayang, bilamana kamu bukan milikku, milik siapakah hatiku?
P : Sayang, bagiku cinta tak harus memiliki. Hasrat ku ingin memilikimu sangatlah besar. Tapi jika aku bersikeras memilikimu, itu bukanlah cinta. Melainkan hasrat biasa..
A : Hati yg terlanjur memilihmu tanpa alasan yg jelas
A : Hati yg memilih jalan terlalu keras.
P : Kamu yakin apa yang kamu rasa itu cinta?
A : Bukan sekedar hasrat.. Bukan sekedar terlihat.. Bukan sekedar kelamin yg tersirat..
A : Lalu apakah cintaku bagimu?
P : Aku adalah ilusi bagimu..
A : Bantu aku untuk bisa.. Karena terlanjur aku terikat oleh tali ilusimu.. Begitu erat dan selalu memikat..
A : Dan biarkan aku mencandu ilusi itu..
A : Sepadan bagiku jika itu yg kamu mau..
A : Cinta itu kamu..
P : Berhentilah, ketika aku sudah berhasil menghilangkan virusku darimu, dan kamu sembuh dari kecanduan akan diriku, aku akan tetap mengingatmu sebagai seseorang yang pernah mengisi hari-hariku dengan senyuman..
P : Biarkan aku terbang.. Bila waktuku tiba, duduklah di kursi nyaman mu.. Jadikan aku sebagai kenangan bagimu..
A : Dan jika itupun diriku di balik matamu, tak mengapa..
A : Karena aku hanyalah sebongkah batu yg biasa kamu lempar ke danau, biarpun mati karena berharap takkan kubiarkan juga kamu menyelam memungutku kembali.. Cukup aku saja.. Cukup hatiku saja..
A : Karena aku terlalu bodoh untuk mencintaimu..
P : Kamu tidak akan bisa bertahan hidup dengan cintaku yang tidak nyata.. Aku sayang kamu, tapi realita menginginkan kita untuk berpisah..
P : Dan akupun bodoh untuk membiarkan mu mencintai diriku..
A : Sekali lagi..
A : Tetaplah menjadi bulan untukku, dan aku seperti serigala yg berteriak memanggilmu untuk turun bersamaku..
P : Jika itu jalan terakhir yang tersisa, aku bersedia..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar