Ini bukan cerita cinta, ini cerita tentang cinta. Tentang mereka yg masih percaya untuk tidak akan pernah merasa kecewa dan mereka yg menerima semua hal yg tidak bisa diterima.
Ditengah hingar bingar bar yg sudah larut pagi, tak peduli sekitarnya mereka berbagi kata.
Berbicara dengan bahasa yg berbeda, tentang perasaan bukan pengetahuan. Masih saling selidik apakah ini rasanya jika cinta sudah menggelitik.
Sambil memainkan jari di mulut gelas bir, wanita bertahtakan rembulan itu bertanya,
'Katakan padaku, apa semua akan berakhir seperti di film? Bahagia selama-lamanya?'
'Tidak, malam ini akan berakhir menjadi sebuah kenangan. Seperti sebuah mimpi, hanya ada aku dan kamu menertawakan botol bir..'
'Kamu pembohong yg buruk sayang..'
Mereka berdua tau mereka saling jatuh cinta. Untuk kedua kalinya benar2 cinta. Seakan mereka lupa pada luka yg telah lama. Tetap masih ada sedikit keraguan, sedikit lagi untuk saling menukar hati. Tidak hanya sekedar berbagi selimut, tidak hanya sekedar tidur seranjang, namun lebih. Lebih dari arti cinta yg mereka tau.
Bergelas2 bir sudah mereka habiskan. Jelas mereka tidak mabuk minuman. Mereka mabuk suatu yg lain, mabuk yg 3jam lalu masih dianggap tabu. Mabuk cinta. Tetap saja tak berani mengartikannya. Hanya perasaan manis dan ingin bersama. Tak peduli ruang waktu dan dunia, seperti hilang menuju ke abad yg tak lekang.
Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 3 pagi, para pelayan sudah menaikan bangku. Sayang, pikir mereka sedikit lagi untuk saling memahami. Dan akhirnya mereka beranjak pergi, sebelum pelayan yg terkantuk lelah dan mengusir mereka secara perlahan.
'Seperti biasa, kencan pertama pria yg harus bayar' kata perempuan manis itu setengah mabuk
'Iya sayang..'
Deg! Hati perempuan itu berdegup, bukan pertama kali dipanggil sayang oleh setiap pria yg tidur dengannya. Namun kata itu terngiang terus. Seakan kata itu punya sihir tergantung siapa pemakainya, dan pria itulah orang kedua yg mengguncang hatinya dengan kata sayang.
Sambil memeluk tangan prianya wanita itu tertunduk, tersipu malu. Seperti anak kecil. Berdua berjalan menyusuri pinggir jalan yg hanya diterangi lampu kota.
Berdua, menuju pusat kota. Tak tahu harus kemana, entah kerumah pria, kerumah wanitanya, atau menghabiskan sisa waktu di hotel berdua.
Pelipur lara, pelipur lara. Berharap menjadi juliet dan mati bersama, begitu mimpinya setelah terbangun di kamar hotel bintang lima.
Matahari menusuk mata dan kulitnya dibalik jelah jendela.
"Maaf aku gak ada disitu ketika kamu buka mata. Maukah kamu mencintaiku di pagi hari?"
Begitu isi catatan kecil disamping meja. Romeo pergi, entah kemana apakah kembali?
Begitulah. Tak seharusnya percaya, namun ingin percaya. Perasaan wanita itu hanya ingin mencintainya biarpun tak seharusnya memilih dia. Dan semua pun kembali seperti biasa, tak terjadi apa-apa. Tukang bubur masih bersiul di pagi hari didepan rumahnya seperti biasa, satpam senyum lebar sedikit genit masih menyapa di pos depan rumahnya, dan orang2 masih berlalu lalang disekitarnya seperti sedia kala.
Ini bukan cerita cinta, ini cerita tentang cinta. Tentang mereka yg masih percaya untuk tidak akan pernah merasa kecewa dan mereka yg menerima semua hal yg tidak bisa diterima.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar