Rabu, 19 Oktober 2016

simbiosis

"Tulislah sesuatu untukku"

  "apa dan bagaimana?"

"entahlah kamu yang lebih tahu"
 
  "apa kamu tidak bosan?"


........

Seperti itu lalu kamu menghilang menarik semua tulisan.
Seakan sebuah doa yang terhenti sebelum mengucapkan kata amin 

kamu ingin aku menulis? tahukah kamu bagaimana penampilan rahim yang melahirkan tulisanku?
Dia kelabu! bahkan dinding didalamnya berwarna biru, bayangkan tulisanku merangkak keluar dari situ dan mencungkil setiap mata yang melihatnya sedang telanjang dada.

ada jejak berdarah di langkah pertamanya.

tunggu,

tunggu dulu,

sebentar biar ku tarik nafas, aku sedikit keterlaluan menggambar setiap anak yang kulahirkan.
seharusnya mereka manis dan langkah kecilnya membuat gemas.

seharusnya.

baiklah,

begini mungkin yang seharusnya terjadi. aku akan mencintaimu lewat tulisanku.
semua berawal dari dalam kepalaku, letaknya di bagian otak insula dan striatum.
bagian itu menikmati potongan syandu parasmu, mungkin sebaiknya seperti itu.
melihatmu sepotong dari keutuhan jauh lebih cukup daripada tidak melihatmu sama sekali.

dari sana aku mulai menulis, aku menulis kehilangan yang belum pernah kudapatkan.
sampai tulisan selesai aku akhirnya menemukanmu dan lucunya seketika kehilangan diriku sendiri

kalap? mungkin.

lalu kubawa penghapus dan menghapus dirimu, sampai yang kuhapus terlalu jauh
aku menghapus diriku sendiri.

sama saja.

lihat kan? keutuhanku adalah potongan dirimu dan tulisanku, sayang.

dan semua kisah memiliki akhir, bahkan selamanya pun harus berakhir. entah dimalam atau pagi keberapa harusnya akhir itu menambatkan perahunya.

aku merasakan takut memikirkan itu. aku takut ini berakhir. aku takut kita berakhir. 
aku takut semua selesai jauh sebelum dimulai.

lebih dari itu semua, aku takut kehilanganmu.

takut sekali.




Kamis, 06 Oktober 2016

Melampaui

Entah sudah sekian berapa lama aku terakhir menulis. rasanya ada kelu di lidah dan kaku di tiap jemariku. bukannya aku tak mampu berkata manis lagi, sayang, tapi aku lelah hanya dengan berkata. aku ingin bertemu.

kamu tahu ada hati yang terselip di setiap kata dan spasi yang ku ketik. aku ingin menyusun hatinya utuh dan langsung kubawa ke depan pintu kamarmu. karena mungkin akan jauh lebih cepat menggunakan kakiku sendiri untuk membawanya kesana daripada berdoa terus setiap malam pada Tuhan agar Dia menumbuhkan kaki di setiap tulisanku. aku ingin lebih cepat bertemu. memotong waktu dengan pedang yang lebih tajam dari kata rindu. aku ingin kamu. terdengar seperti anak kecil egois yang berlari ditengah gerimis hujan dan menyanyikan lagu cinta picisan. 

pujaanku,

pernah ada satu waktu aku memejamkan mata dan mulai berhitung, entah pada hitungan ke berapa kamu ada didepanku?
pernah juga ada satu hari dimana aku terlalu sibuk menyingkirkan senyummu yang sudah ku tempel disetiap sentimeter dinding kamarku.
pun entah berapa pintu telah kubuka agar bisa menemukan dimana hatimu berada.

senyummu sayang yang membuatku mencandu.
candu yang bahkan lebih tabu daripada menginginkan sesuatu yang bukan milikmu.

ini adalah salah satu dari tujuh dosa terbesar manusia. seakan bangga aku memakainya sebagai kalung piala dan melangkah ke nirwana.
jelaslah, sayang, malaikat melemparku dari ujung atas sana.

aku ingin bertemu,

aku ingin memegang hidungmu,

aku ingin menggigit dagumu,

aku menginginkan semua itu,

aku bahkan bermimpi ada disitu dan kita menertawakan kenyataan yang menungguku bersama matahari, lalu kamu sempat berkata, 

                "jangan terbangun. akan kupatahkan kaki matahari agar dia tidak bisa memanjat ke jendela kamar dan membangunkanmu". 

disitu aku hanya tersenyum melihatmu karena aku menginginkan lebih. aku mau lebih dari itu.

aku ingin bertemu,

aku ingin memegang hidungmu,

aku ingin menggigit dagumu,

aku menginginkan semua lebih dari pada itu.

aku menginginkan kamu.


Kamis, 07 Juli 2016

Lima nyawa

Puisi kan abadi jika diingat. Apa artinya keabadian jika kekuatannya tak bertuan? Lalu kuhembus nyawa ke setiap huruf dan katanya. Agar dikehidupannya yang lanjut dia mampu menemukanmu dan mengingatkan. 
Saat doaku terkabul, puisiku akan berkata dengan bangga, "aku ada". Biar dia memijit kepalamu dan kakimu yang lelah seperti kebiasaan kita dulu  dirumah. 
Aku pun yakin, sayang, sampai dikehidupan kelimamu pun matamu akan mengenali puisiku karena rasa dan tintanya masih nyata. 
Hingga di kehidupan selanjutnya, jika aku memiliki lima nyawa, aku akan mencintai lima kali orang yang sama. 

Senin, 27 Juni 2016

Menyerahlah sayang

Bertamu kemari, sayang, pintu untukmu masih terbuka
Karena lantunan lagu untukmu masih ku gumam waktu membuat makan malam

Lelahkah kakimu, sayang? Sini bawa milikmu yang sepasang karena milikku telah hilang

Menyerahlah, sayang, pulanglah

Perasaan sudah ku paku bintang dilangit untuk menunjukkan arah pulang
Tapi mengapakah kamu tidak segera datang?

Menengadah angkat dagumu lihat keatas, itu bulanmu yang kuberikan padamu dulu
Sedangkan aku masih menunggu menunduk kebawah karena bintang bulan dan alas permadani langit tidak terlalu indah jika bibirmu ada dibawah daguku

Dan menyerahlah, sayang, aku tahu cara untuk menemukanmu..

Senin, 25 April 2016

Balon udara

"Terbang.. Terbang.. Tinggi..!!", bocah itu berlari membawa balonnya keluar rumah. Imajinasinya bersemayam didalam balon dan menarik tangannya hingga terbang tinggi ke angkasa. Rianglah hatinya, bahagialah isi dunianya. Dia lupa pulang. Sampai pada tingkat langit ke tujuh balonnya pecah, hanya tangis yg tersisa. Bocah itu baru lima tahun, dia jatuh seakan secorek kertas. Malang melintang dia hilang entah kemana.. Terbawa angin percuma sampai bertahun-tahun sudah. Suatu ketika dia terbiasa terbawa arus antah berantah, dia melewati lagi rumah yang dia tinggalkan dulu. Melihat orangtuanya (masih) bahagia, tanpa dirinya. Tak ada tangis ataupun kerut bekas sedih di dahi mereka. Dan membayangkan sulitnya hidup tanpa orangtua membuatnya gila, tapi memikirkan orangtua yang lupa anaknya hilang buat dia hilang pikiran. "Lalu biar saja Tuhan jadikanku angin..", doanya yg mengambang diangkasa. Pun juga sesaat angin membawa doa itu ke telinga Sang Dia, Si Maha Besar itu dan mengabulkannya secara cuma-cuma. Inilah balasannya anak nakal yang tidak pernah pulang kerumah.

Taxi dari masalalu

Pengikut