Jumat, 30 Desember 2011

Rindu Rasa Bangsat

"Apa yg kamu cari? Sebuah rasa? Rasa tidaklah membutuhkan kosmetik, lipstik, dan candaan menggelitik. Rasa hanya membutuhkan ciuman, sentuhan, dan kehangatan. Dengan demikian dia tumbuh tinggi dengan ranting menjuntai kearahmu dan dirinya. Tinggal saja pilihan dia untuk meraihnya atau tidak..."

Begitu panjang kata temanku disaat ku bercerita aku merindukan seseorang.
Seseorang yg telah hilang sekitar enam bulan yg lalu. Seseorang yg berlari menjauh setelah sekian lama melekat di kulitku.
Seseorang yg seakan mampu mengambil seluruh hidupku dengan satu kedipan mata merayu.
Seseorang yg mencampakkanku, yg menyakiti, dan yg berada di urutan nomor satu daftar kekasih terburuk yg pernah tidur dikamarku.

Orang melihat bagaimana sempurnanya dia, cantiknya, manisnya, suaranya, piawainya dia memainkan gitar dan kelamin kekasihnya.
Aku malah melihat ketidaksempurnaannya, keegoisannya, seperti anak kecil yg pintar memakai lipstik berjalan bak seorang diva dengan celana jins sobeknya.
Aku membutuhkan ketidaksempurnaannya itu, untuk buatku lebih bermakna, lebih berarti jauh dari apa yg bs kuharapkan.
Sejatinya aku mencintai keburukan kebobrokan dan semua sifat jeleknya dia. Tentang bagaimana dia merengek, sifat sok pintar, dan bagaimana aku mengajarkan dibagian titik mana lelaki akan tunduk dibawah kakinya.

Selang sudah setengah tahun, aku merindunya, akan lebih lama dari ini jika benar adanya rasa itu. Bangsat! Senikmat apa dirimu di benakku? Bersenggama dengan rindu menyibak kalbu dan memancing emosi juga kenangan untuk bersama mencumbumu?
Sudah cukup! Sebelum kebun binatang sesat keluar dari mulutku dan meramaikan kamar yg penuh dengan umpatan untukmu.
Mengapa kamu pergi ketika aku mencintai kekuranganmu?
Mengapa aku diam disini ketika kamu menyangkal semua desah rindumu padaku?
Tak masalah, bagiku lidah yg sekarang kamu pakai untuk mengutukku pernah melumat bibirku dengan mesra dan menjilat tubuhku tanpa kurang tersisa setitik peluh.
Bangsat! Bangsat! Bangsat!
Pergi! Pakai kembali bh hitammu, keluar dari kepalaku!
Karena jika masih terus kamu berada dikepalaku, mungkin memang disanalah seharusnya kamu berada..

Senin, 05 Desember 2011

Lihat Aku

Teramat sangat sirna cintamu
Tak kunjung jua menghantam rinduku
Sayang, ketika itu jg aku mati
Tiada asa tiada rasa yg ku pinta

Lihat bagaimana aku menenang
Menggeliat air mata tergenang
Meleleh diujung mata berbulir-bulir
Tiada kemarau sesaat pun ku rasa

Aduh, sayang, lihat aku
Tiadamu tiada simpul
Senyum yg biasa kamu tenun
Tawa yg biasa kamu pancing

Tak tersesali untukmu
Berbeda ranting teramat jauh
Matahari tak lg memanjat diantara kita
Waktu pun tak lagi menumbuhkannya

Aduh, sejatiku, lihat ini
Bagaimana kamu mengunci hatiku
Mengikat rantai diantara paru-paru
Tidak keluar ataupun masuk

Tak tersesali sekali lg
Berbeda jalan terlalu sukar, untukku
Dirimu tak kunjung datang
Seraya waktu tertawa biarkan aku hilang

Jumat, 04 November 2011

penggalauan

Ini tulisan pertama gue tanpa embel-embel puisi dan blablabla nya. oke udah cukup lama gak nulis kayak begini, jadi maaf kalo misalnya bahasa gue rada ngawur secara gitu bahasa indonesia adalah bahasa tersulit nomor tiga di asia. tuhkan mulai ngawur.
tapi tetep, inti tulisan ini gak jau-jauh dari ganjau (baca: galau) yah maklum masih dlam proses moving on. disuruh mandi aja susah, apalagi disuruh move on ?? -.-

oke, gue mau cerita pas gue ke satu mall di daerah kelapa gading. gue selalu ketemu tuh perempuan disitu, sebelumnya pun mang gue sering banget kesitu. jadi setelah putus, tepatnya tanggal 3 agustus kemaren yg bertepatan sama gagalnya anniversary gue sama doi, gue ke toko buku tempat pertama kali gue ketemu doi.

kali ini beda, gak ada yg gandeng tangan gue dan nyeret kearah novel, gak ada tangan yg dorong gue kearah tempat resep masakan, dan gak ada situasi kondisi dimana sama sibuk nyari buku. dan salah satu ritual gue di toko buku itu adalah tiba-tiba hilang begiiu salah satu diantara kita sibuk nyari buku. misalnya, gue lagi sibuk nyari vagabond yg baru, tiba-tiba gue nengok tuh perempuan udah gak ada. gue celingak-celinguk nyariin dia, sampe bersihin kacamata gue buat liat sekeliling gue lebih jelas. sampe akhirnya hp gue geter dapet sms yg isinya,

"cieee yg pacarnya ilang.... :$"

dan gue cuma bisa senyum baca tuh sms dan nyariin dia yg lagi ngumpet.

dan sekarang, gue sendirian.
selama di toko buku itu gue berharap sangat sangat sangat sangat berharap tiba-tiba hp gue geter dan ada sms yg biasa dia kirim kalo lg ngumpet.

sepuluh menit......
dua puluh menit...
sampe satu setengah jam, gue nungguin hp gue geter.

dan gak terjadi apa-apa. masa-masa yg manis itu udah gak ada, kenangan yg harusnya manis malah terasa sakit. sampe akhirnya gue ketawa dalam hati,

"what the hell i'm waiting for? she was never here, u fuckin idiot.. "

karena cinta yg gue tau itu gak kenal musim kemarau, cuma tissue dan air sungai yg tau kenapa. dan mungkin pada akhirnya gue tertawa setelah lama menangis dan tetiba air telaga yg surut menjadi penuh dan meluap.

dan apapun itu, gue masih menunggu hp gue berdering....

salam, titik dua petik buka kurung

Senin, 24 Oktober 2011

putri

Perlahan tapi pasti kian mendekat
Terlarut terlalu pekat pada elegi yg kian melekat
Seperti abu pada rokok yg layu dan terjatuh ke asbak
Membakar setiap keberanian dan jatuh terjebak

Aku takut mencintaimu
Terlalu takut untuk jatuh ke lubang yg sama
Teraniaya rasa kesal yg terlanjur lama
Dan tanpa kesenangan semata semua rasa hilang tiada bekas
Karena aku terlalu takut mencintaimu

Memilikimu yg tak menginginkanku
Mencintaimu yg tak mendambaku
Merindumu yg tak memikirkanku
Menangisimu yg tak kunjung datang kepadaku

Dalam gelap semua irama elegi tertelan perlahan
Seakan manis rasa yg terasa pahit

Aku terlalu takut mencintaimu
Rasa pada asa dan putus harapan dikepala

Aku mundur perlahan

Mencari rasa yg tak pernah ku rasa

Aku terlalu takut mencintaimu
Itu sudah cukup, dan tak pernah akan lagi ku lakukan

Senin, 10 Oktober 2011

rima elegi

Asa yg tiada
Cinta yg gundah gulana
Membara sepanjang masa
Memerah diroda yg sama

Dengarlah waktu yg tak lekang
Cinta padanya yg tak pernah hilang
Biar tiap malam teriak mengerang
Mencari hangat ditatapan bintang

Teranglah yg ku cari
Walau selalu tak mau sendiri
Hingga tak ada yg mengerti
Dan memahami arti berbagi

Keinginan yg tak tercapai
Tanpa kesempatan untuk memulai
Sempatkan menangis gemulai
Dan langkah tertatih yg lunglai

Aku mencintaimu
Aku menginginkanmu
Aku merindukanmu
Aku membutuhkanmu

Rima pada elegi
Manis yg tak pasti
Dengarlah jantung hati
Aku masih mencintai

Jumat, 09 September 2011

biru yg pekat

Sibak rambut yg tergeraimu mengundang tawa biru yg sengaja kututupi dengan senyum palsu. Hilanglah, sayang. Aku tau cara menemukanmu

Dan tentang biru pekat yg mengalir deras melewati pipi, sudah kulupakan. Aku hanya tertawa pada diriku, dan mecari rokok yg baru
Tertawalah sayang, karena aku tak lagi tertawa. Menangislah sayang, karena aku tak lagi menangis. Untukmu, biru yg pekat.

Aku tak akan menyelam terlalu dalam lagi, terlalu biru hingga tak terlihat. Tak ada cahaya dan tangan yg sampai. Tak ada yg bisa selain aku
Dgn wujud, warna, dan bentuk yg berbeda. Aku biarkan sungai yg terbentuk untukmu kering. Tak lagi dalam, tak lagi sejuk..

Dan biru yg pekat, aku tak membencimu. Aku hanya benci indra penglihatanku yg kabur melihat lukaku
Tak ada haru biru sedu. Hanya aku membakar rokok yg baru. Tanpa kamu. Tanpa pilu.

Bukan jalan yg tepat jika saling mengumpat. Aku berhenti mencarimu, dan akan menemukanmu bila sempat.
Tanpa alasan, kenapa dan bagaimana aku mencintaimu. Aku hanya tau, aku memang mencintaimu. Bukan kata dan janjimu

Biru yg pekat

Biru yg pekat

Aku bukan pemaaf, aku hanya pelupa. Lupa untuk tidak mencintai semua perbuatan burukmu. Apa adanya. Selalu dan setiap saat.

Sabtu, 20 Agustus 2011

tulisan sebelum tidur

Seharian ini aku berusaha mengusirmu dari pikiranku
Entah sebesar apa ruam merah dikepalaku
Sayang, untuk semuanya, terimakasih karena pernah mencintaiku
Terimakasih karena pernah merindukanku

Terlalu mudah untuk mencintaimu
Namun, terlalu sulit untuk membencimu apalagi melupakanmu

Entah nanti atau tidak sama sekali
Jika kamu melihatku berpikirlah,

"Pria ini yang mencintaimu sekali, dua kali, tiga, empat, dan berkali-kali tanpa henti.."

Seketika itu jg setimpal semua benci yg kamu muntahkan kepadaku

Terimakasih karena pernah mencintaiku
Terimakasih karena pernah merindukanmu

Dari,
Yg belum terbangun karena mimpi bersamamu lebih indah dari kenyataan dihidupku.

Pengikut