Ini tulisan pertama gue tanpa embel-embel puisi dan blablabla nya. oke udah cukup lama gak nulis kayak begini, jadi maaf kalo misalnya bahasa gue rada ngawur secara gitu bahasa indonesia adalah bahasa tersulit nomor tiga di asia. tuhkan mulai ngawur.
tapi tetep, inti tulisan ini gak jau-jauh dari ganjau (baca: galau) yah maklum masih dlam proses moving on. disuruh mandi aja susah, apalagi disuruh move on ?? -.-
oke, gue mau cerita pas gue ke satu mall di daerah kelapa gading. gue selalu ketemu tuh perempuan disitu, sebelumnya pun mang gue sering banget kesitu. jadi setelah putus, tepatnya tanggal 3 agustus kemaren yg bertepatan sama gagalnya anniversary gue sama doi, gue ke toko buku tempat pertama kali gue ketemu doi.
kali ini beda, gak ada yg gandeng tangan gue dan nyeret kearah novel, gak ada tangan yg dorong gue kearah tempat resep masakan, dan gak ada situasi kondisi dimana sama sibuk nyari buku. dan salah satu ritual gue di toko buku itu adalah tiba-tiba hilang begiiu salah satu diantara kita sibuk nyari buku. misalnya, gue lagi sibuk nyari vagabond yg baru, tiba-tiba gue nengok tuh perempuan udah gak ada. gue celingak-celinguk nyariin dia, sampe bersihin kacamata gue buat liat sekeliling gue lebih jelas. sampe akhirnya hp gue geter dapet sms yg isinya,
"cieee yg pacarnya ilang.... :$"
dan gue cuma bisa senyum baca tuh sms dan nyariin dia yg lagi ngumpet.
dan sekarang, gue sendirian.
selama di toko buku itu gue berharap sangat sangat sangat sangat berharap tiba-tiba hp gue geter dan ada sms yg biasa dia kirim kalo lg ngumpet.
sepuluh menit......
dua puluh menit...
sampe satu setengah jam, gue nungguin hp gue geter.
dan gak terjadi apa-apa. masa-masa yg manis itu udah gak ada, kenangan yg harusnya manis malah terasa sakit. sampe akhirnya gue ketawa dalam hati,
"what the hell i'm waiting for? she was never here, u fuckin idiot.. "
karena cinta yg gue tau itu gak kenal musim kemarau, cuma tissue dan air sungai yg tau kenapa. dan mungkin pada akhirnya gue tertawa setelah lama menangis dan tetiba air telaga yg surut menjadi penuh dan meluap.
dan apapun itu, gue masih menunggu hp gue berdering....
salam, titik dua petik buka kurung
Jumat, 04 November 2011
Senin, 24 Oktober 2011
putri
Perlahan tapi pasti kian mendekat
Terlarut terlalu pekat pada elegi yg kian melekat
Seperti abu pada rokok yg layu dan terjatuh ke asbak
Membakar setiap keberanian dan jatuh terjebak
Aku takut mencintaimu
Terlalu takut untuk jatuh ke lubang yg sama
Teraniaya rasa kesal yg terlanjur lama
Dan tanpa kesenangan semata semua rasa hilang tiada bekas
Karena aku terlalu takut mencintaimu
Memilikimu yg tak menginginkanku
Mencintaimu yg tak mendambaku
Merindumu yg tak memikirkanku
Menangisimu yg tak kunjung datang kepadaku
Dalam gelap semua irama elegi tertelan perlahan
Seakan manis rasa yg terasa pahit
Aku terlalu takut mencintaimu
Rasa pada asa dan putus harapan dikepala
Aku mundur perlahan
Mencari rasa yg tak pernah ku rasa
Aku terlalu takut mencintaimu
Itu sudah cukup, dan tak pernah akan lagi ku lakukan
Terlarut terlalu pekat pada elegi yg kian melekat
Seperti abu pada rokok yg layu dan terjatuh ke asbak
Membakar setiap keberanian dan jatuh terjebak
Aku takut mencintaimu
Terlalu takut untuk jatuh ke lubang yg sama
Teraniaya rasa kesal yg terlanjur lama
Dan tanpa kesenangan semata semua rasa hilang tiada bekas
Karena aku terlalu takut mencintaimu
Memilikimu yg tak menginginkanku
Mencintaimu yg tak mendambaku
Merindumu yg tak memikirkanku
Menangisimu yg tak kunjung datang kepadaku
Dalam gelap semua irama elegi tertelan perlahan
Seakan manis rasa yg terasa pahit
Aku terlalu takut mencintaimu
Rasa pada asa dan putus harapan dikepala
Aku mundur perlahan
Mencari rasa yg tak pernah ku rasa
Aku terlalu takut mencintaimu
Itu sudah cukup, dan tak pernah akan lagi ku lakukan
Senin, 10 Oktober 2011
rima elegi
Asa yg tiada
Cinta yg gundah gulana
Membara sepanjang masa
Memerah diroda yg sama
Dengarlah waktu yg tak lekang
Cinta padanya yg tak pernah hilang
Biar tiap malam teriak mengerang
Mencari hangat ditatapan bintang
Teranglah yg ku cari
Walau selalu tak mau sendiri
Hingga tak ada yg mengerti
Dan memahami arti berbagi
Keinginan yg tak tercapai
Tanpa kesempatan untuk memulai
Sempatkan menangis gemulai
Dan langkah tertatih yg lunglai
Aku mencintaimu
Aku menginginkanmu
Aku merindukanmu
Aku membutuhkanmu
Rima pada elegi
Manis yg tak pasti
Dengarlah jantung hati
Aku masih mencintai
Cinta yg gundah gulana
Membara sepanjang masa
Memerah diroda yg sama
Dengarlah waktu yg tak lekang
Cinta padanya yg tak pernah hilang
Biar tiap malam teriak mengerang
Mencari hangat ditatapan bintang
Teranglah yg ku cari
Walau selalu tak mau sendiri
Hingga tak ada yg mengerti
Dan memahami arti berbagi
Keinginan yg tak tercapai
Tanpa kesempatan untuk memulai
Sempatkan menangis gemulai
Dan langkah tertatih yg lunglai
Aku mencintaimu
Aku menginginkanmu
Aku merindukanmu
Aku membutuhkanmu
Rima pada elegi
Manis yg tak pasti
Dengarlah jantung hati
Aku masih mencintai
Jumat, 09 September 2011
biru yg pekat
Sibak rambut yg tergeraimu mengundang tawa biru yg sengaja kututupi dengan senyum palsu. Hilanglah, sayang. Aku tau cara menemukanmu
Dan tentang biru pekat yg mengalir deras melewati pipi, sudah kulupakan. Aku hanya tertawa pada diriku, dan mecari rokok yg baru
Tertawalah sayang, karena aku tak lagi tertawa. Menangislah sayang, karena aku tak lagi menangis. Untukmu, biru yg pekat.
Aku tak akan menyelam terlalu dalam lagi, terlalu biru hingga tak terlihat. Tak ada cahaya dan tangan yg sampai. Tak ada yg bisa selain aku
Dgn wujud, warna, dan bentuk yg berbeda. Aku biarkan sungai yg terbentuk untukmu kering. Tak lagi dalam, tak lagi sejuk..
Dan biru yg pekat, aku tak membencimu. Aku hanya benci indra penglihatanku yg kabur melihat lukaku
Tak ada haru biru sedu. Hanya aku membakar rokok yg baru. Tanpa kamu. Tanpa pilu.
Bukan jalan yg tepat jika saling mengumpat. Aku berhenti mencarimu, dan akan menemukanmu bila sempat.
Tanpa alasan, kenapa dan bagaimana aku mencintaimu. Aku hanya tau, aku memang mencintaimu. Bukan kata dan janjimu
Biru yg pekat
Biru yg pekat
Aku bukan pemaaf, aku hanya pelupa. Lupa untuk tidak mencintai semua perbuatan burukmu. Apa adanya. Selalu dan setiap saat.
Dan tentang biru pekat yg mengalir deras melewati pipi, sudah kulupakan. Aku hanya tertawa pada diriku, dan mecari rokok yg baru
Tertawalah sayang, karena aku tak lagi tertawa. Menangislah sayang, karena aku tak lagi menangis. Untukmu, biru yg pekat.
Aku tak akan menyelam terlalu dalam lagi, terlalu biru hingga tak terlihat. Tak ada cahaya dan tangan yg sampai. Tak ada yg bisa selain aku
Dgn wujud, warna, dan bentuk yg berbeda. Aku biarkan sungai yg terbentuk untukmu kering. Tak lagi dalam, tak lagi sejuk..
Dan biru yg pekat, aku tak membencimu. Aku hanya benci indra penglihatanku yg kabur melihat lukaku
Tak ada haru biru sedu. Hanya aku membakar rokok yg baru. Tanpa kamu. Tanpa pilu.
Bukan jalan yg tepat jika saling mengumpat. Aku berhenti mencarimu, dan akan menemukanmu bila sempat.
Tanpa alasan, kenapa dan bagaimana aku mencintaimu. Aku hanya tau, aku memang mencintaimu. Bukan kata dan janjimu
Biru yg pekat
Biru yg pekat
Aku bukan pemaaf, aku hanya pelupa. Lupa untuk tidak mencintai semua perbuatan burukmu. Apa adanya. Selalu dan setiap saat.
Sabtu, 20 Agustus 2011
tulisan sebelum tidur
Seharian ini aku berusaha mengusirmu dari pikiranku
Entah sebesar apa ruam merah dikepalaku
Sayang, untuk semuanya, terimakasih karena pernah mencintaiku
Terimakasih karena pernah merindukanku
Terlalu mudah untuk mencintaimu
Namun, terlalu sulit untuk membencimu apalagi melupakanmu
Entah nanti atau tidak sama sekali
Jika kamu melihatku berpikirlah,
"Pria ini yang mencintaimu sekali, dua kali, tiga, empat, dan berkali-kali tanpa henti.."
Seketika itu jg setimpal semua benci yg kamu muntahkan kepadaku
Terimakasih karena pernah mencintaiku
Terimakasih karena pernah merindukanmu
Dari,
Yg belum terbangun karena mimpi bersamamu lebih indah dari kenyataan dihidupku.
Entah sebesar apa ruam merah dikepalaku
Sayang, untuk semuanya, terimakasih karena pernah mencintaiku
Terimakasih karena pernah merindukanku
Terlalu mudah untuk mencintaimu
Namun, terlalu sulit untuk membencimu apalagi melupakanmu
Entah nanti atau tidak sama sekali
Jika kamu melihatku berpikirlah,
"Pria ini yang mencintaimu sekali, dua kali, tiga, empat, dan berkali-kali tanpa henti.."
Seketika itu jg setimpal semua benci yg kamu muntahkan kepadaku
Terimakasih karena pernah mencintaiku
Terimakasih karena pernah merindukanmu
Dari,
Yg belum terbangun karena mimpi bersamamu lebih indah dari kenyataan dihidupku.
Selasa, 09 Agustus 2011
nyawa hidup
Kamu tau,
Andai aku punya 4 mata dan dua jantung
Akan ku taruh ditempat yg berbeda
Jika memang hidup baru itu ada
Aku akan mengubur sisa lama dihalamannya
Seperti pelangi sehabis hujan
Seperti cahaya dibalik bayangan
Dan apabila aku memiliki lima nyawa
Selama lima kehidupan aku akan menjalaninya dengan mencintai lima kali orang yang sama,
Kamu,
kamu lagi,
kamu berikutnya,
Tetap kamu dan cuma kamu..
Andai aku punya 4 mata dan dua jantung
Akan ku taruh ditempat yg berbeda
Jika memang hidup baru itu ada
Aku akan mengubur sisa lama dihalamannya
Seperti pelangi sehabis hujan
Seperti cahaya dibalik bayangan
Dan apabila aku memiliki lima nyawa
Selama lima kehidupan aku akan menjalaninya dengan mencintai lima kali orang yang sama,
Kamu,
kamu lagi,
kamu berikutnya,
Tetap kamu dan cuma kamu..
ingatan
Hari ini aku bersepatu hujan
Agar bunyinya menyembunyikan tangisku
Hari ini aku berwarna oranye
Persis api. Matahari. Membakarmu hingga habis
Aku tak bisa meninggalkan.
Semua kata tentang kamu. Foto. Tulisan. Dan semua guyonan bodohmu.
Aku tak bisa melepaskan.
Ikatanmu. Pelukanmu. Gigitanmu. Pandanganmu dariku.
Yg biasa kamu lakukan padaku.
Hari ini tepat setahun, aku membawamu pada hidupku di restoran cepat saji.
Mendengarkan lagu tentang apa yg aku miliki dan apa yg aku berikan.
Kamu tidak lagi aku ketahui
Seperti misteri laut lepas
Yg memancingku berenang dan tenggelam
Semakin jauh dari bibir pantai.
Aku tak menemukan daratan, agar aku bisa berpijak, agar aku bisa kembali hidup.
Tak ada teriakan dan tangis yg paling kencang yg sanggup aku keluarkan
Namun kamu tak mendengar, tak menjawab.
Semakin berusaha. Semakin tenggelam.
Semakin menggila. Semakin menyiksa.
Aku menyerah, sayang. Kini biarlah. Biarlah kamu menang. Kamu tertawa. Kamu bahagia.
Agar bunyinya menyembunyikan tangisku
Hari ini aku berwarna oranye
Persis api. Matahari. Membakarmu hingga habis
Aku tak bisa meninggalkan.
Semua kata tentang kamu. Foto. Tulisan. Dan semua guyonan bodohmu.
Aku tak bisa melepaskan.
Ikatanmu. Pelukanmu. Gigitanmu. Pandanganmu dariku.
Yg biasa kamu lakukan padaku.
Hari ini tepat setahun, aku membawamu pada hidupku di restoran cepat saji.
Mendengarkan lagu tentang apa yg aku miliki dan apa yg aku berikan.
Kamu tidak lagi aku ketahui
Seperti misteri laut lepas
Yg memancingku berenang dan tenggelam
Semakin jauh dari bibir pantai.
Aku tak menemukan daratan, agar aku bisa berpijak, agar aku bisa kembali hidup.
Tak ada teriakan dan tangis yg paling kencang yg sanggup aku keluarkan
Namun kamu tak mendengar, tak menjawab.
Semakin berusaha. Semakin tenggelam.
Semakin menggila. Semakin menyiksa.
Aku menyerah, sayang. Kini biarlah. Biarlah kamu menang. Kamu tertawa. Kamu bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)
