Tersiksanyalah aku", ungkapnya mendayu. "Aku pun", sambung suara parau menyahut dari mulut telepon.
Malam meracau gundah gulana, sayang, kemuning kilat rembulan terlalu perih jika ditatap hanya mata yang sepasang.
Rasa rindu malam ini rasa bangsat. Tidak serta merta kita bertemu tatap mata langsung saling memeluk. Tanganmu miliknya, matamu juga miliknya, dadamu pun, puan. Miliknya.
Mengapa cinta bertamu dirumah yang sudah bertuan? Apa salah Tuhan yang menciptakan dosa, atau pengenalan tentang fantasi terlarang terlalu indah? Begitu misterinya jalan cerita, bercampur debar desir jantung setiap berpapasan.
Buah akalku, inspirasiku, segalanya yang menurutmu setengah ialah milikmu. Utuh. Temukan jalanmu kerumah malaikat yang menulis suratanmu, kasih. Pinjam penanya yang menyala, lalu coretlah setiap simpang di jalan pertama kita saling bertukar kecup.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar