Jumat, 29 November 2013

Rumah

Rumah. Beratap kasih melantai surga. Seharusnya. Tapi malah berawal dari puing yg berantakan. Bukan tempat yg tetap pasti pindah pada akhirnya. 
Aku terlahir dari situ, puing yang dipaksa jadi istana mewah dengan sesosok perempuan bertudung kasih dan damai sejahtera. Rumahku bukanlah tempat, tapi landasan dimana perempuan itu berada. 
Andai aku kura-kura yg membawa rumah ku kemana saja. Tapi aku manusia, aku butuh perempuan itu sebagai penyangga. Sebenarnya aku mungkin adalah sebuah penjara yg memaksa dia untuk tetap ada disini, disebelahku atau mungkin aku yg menunggu untuk dibebaskan? 
Rumah, kala senja pada perpisahan yg sengaja dibuat indah. Beralaskan senyuman dan ucapan, "berjuanglah diluar sana". 
Rumah, tempat terakhir untuk kaki-kaki yg berdarah. Pada langkah keberapa aku bisa berada disana (lagi) seketika? 
Rumah, entah apapun itu maksudnya, suatu saat laki-laki kan pulang membawa sukacitanya kembali bersama

Kamis, 28 November 2013

Kata kutipan

"kamu keras, aku lebih keras. Kamu batu, aku karang!"

Kutipan kecil dari tulisanku terdahulu. Entah apa tujuannya dan darimana asalnya tiba-tiba kutipan itu datang menghampiriku. 

"aku lihat kamu lelah, ingat aku?", kata kutipan itu manja. Dia duduk diatas meja dengan seenak udelnya berbicara kepadaku. 

"entahlah, apa yang kamu tau?", balasku ketus dan memilih untuk tidak menggubris pertanyaannya. Aku terlalu sibuk! Pikirku lanjut. Aku sibuk sendiri, aku sibuk menemani sepi yg dari tadi ada disini, sepi yg serakah yg memangsa hidupku, keluargaku, temanku, bahkan agamaku. 
Dan kini kita bertiga di ruang makan. Sepi terlalu diam untuk berbicara, aku terlalu malas melanjutkan kutipan bercerita, dan kutipan masih sibuk mencari bahan pembicaraan. 

"jadi....", kutipan itu berdiri dari meja makan dan berjalan kearah kulkas. Seperti biasa dia mencari bir agar suasana mencair, tradisi yg sudah kulupakan sejak mengenal kesepian. 

"kamu mau berbicara tentang teman barumu?", kata kutipan setelah mengambil sekaleng bir dingin. Aku diam tidak menjawab. Karena sepi yg serakah yg memangsa hidupku, keluargaku, temanku, bahkan agamaku. Lagi. 

"baiklah...", Kutipan terus bercerita bagaimana dia berpetualang setelah keluar dari isi kepalaku. Dia kesana-kemari, dari dunia la la ke dunia li li, ke negeri na na na dan cha cha ra. Gaul, pikirku dalam hati. Biar diam kupingku mendengarkan bagaimana cara dia mempengaruhi orang. Dan aku teringat awal kita bertemu di akal pikiran. Terlahir dari semesta ide yang buatku lupa aku luka, yg memang menguatkanku, yg membuatku melawan ini itu. Namun pada akhirnya, entah kepada siapa dan apa aku melawan biarpun aku menang, aku yang paling terluka. Semoga kutipan ingat hal itu selagi dia bercerita dan menenggak kalengan bir-nya yg kedua. Aku tidak sedurhaka yg kalian pikir untuk melupakan kutipanku sendiri, aku juga bukan kacang lupa kulit. Karena berbahagialah mereka yg bermata dan tak melihat namun percaya bahwa aku bukanlah kacang. Aku manusia. Bukan karang apalagi kacang. Manusia yg takut terluka. Dan berdarah entah tidak berdarah sama sakitnya. Aku lebih baik diam daripada terluka atau membuat luka. Semenjak itulah aku mengenal kesepian. Dia yg menahanku untuk merajam malam seperti yg kutipan lakukan. Aku manusia. Aku takut terluka. Aku...aku... Sudahlah.. Aku lelah.. Pada akhirnya aku tau, aku hanya mencari cara untuk keluar dari sengketa berhidup ini. Mencari pembenaran dari konsep benar yg belum tentu benar dan salah yg belum tentu salah. Egois.

Kutipan melihatku berpikir keras, tentunya dia tau itu karena dari sanalah ia berasal. Dari pikirku yg keras. 

"sayang, jika tidak melakukan kesalahan, apa yg membuatmu melakukan kebenaran? Benar jadi keras adalah salah, tapi apa jadi lembut adalah kebenaran yg absolut? Bukannya karang juga pendiam, sayang?", bisiknya perlahan dari belakang telinga. Dia pun melangkah keluar dengan kaleng bir yg ketiga, pergi lagi entah kemana

.........

Lalu aku pun berpikir untuk mengusir kesepian. 

Rabu, 13 November 2013

Surga

"ganjaran orang yg membuat patah hati adalah neraka", begitu kata kutipan sebuah buku yg sedang kubaca. 
Terlamunku datang berjinjit membawa secangkir kopi hitam kedepan buku yg kiranya setebal egomu dulu. 
 Berbalik halaman demi halaman, lamunku mengganggu untuk ikut ambil bagian.
Begitu aku membayangkan akhir dari dunia, aku membayangkan kamu masuk neraka. " apa ganjaran orang yg mencintai setulus hati?", aku pun bertanya pada diriku sendiri lalu berbalik halaman pada buku itu menjawab, "surga". 
Entahlah sayang, jika memang demikian pastilah aku di surga dan kamu di neraka. Pasti. Tanpa tanda tanya lagi. Tapi apa aku bahagia?
Yang ada aku malah aku akan membakar surga untuk menemui wujudmu disana, biar kita terbakar walaupun nanti kau membodohiku lagi. 
Lucu bagaimana aku menetapkan standar surga yg belum tentu ada setelah pergi dari dunia. Seakan pernah merasakan dan melihat surga, aku yg 'sok tau' menggambarkan surga yg dulu pernah ku kecup pipinya. Surga yg pernah ada disampingku ketika awal pagi ku membuka mata. Surgaku. Surga duniaku. Surga hidup namun belum tentu matiku. Surga yg pernah menampar pipiku dan menelfonku seusai tidur dengan pria lain. Surga yg berkata, "aku kangen kamu", jika malas meladeni penis prianya yg baru. 
Hahahaha. Itukah surga??
Entahlah, sayang, biar petua bangka berkata apa aku masih merasakan keberadaan surga di pelukanmu ataukah celanamu? 
Aku mencintaimu seperti lingkaran yg kulakukan berulang-ulang. Tanpa menemui awal dan akhir dari setiap pertanyaan kenapa, bagaimana, dan sampai kapan aku mencintaimu. Namun jika tak kutemui surga atau neraka pada akhir dunia, apapun ganjaran nantinya sayang, jika memiliki lima nyawa aku akan tetap mencintai lima kali orang yg sama. 

Pengikut