"kamu keras, aku lebih keras. Kamu batu, aku karang!"
Kutipan kecil dari tulisanku terdahulu. Entah apa tujuannya dan darimana asalnya tiba-tiba kutipan itu datang menghampiriku.
"aku lihat kamu lelah, ingat aku?", kata kutipan itu manja. Dia duduk diatas meja dengan seenak udelnya berbicara kepadaku.
"entahlah, apa yang kamu tau?", balasku ketus dan memilih untuk tidak menggubris pertanyaannya. Aku terlalu sibuk! Pikirku lanjut. Aku sibuk sendiri, aku sibuk menemani sepi yg dari tadi ada disini, sepi yg serakah yg memangsa hidupku, keluargaku, temanku, bahkan agamaku.
Dan kini kita bertiga di ruang makan. Sepi terlalu diam untuk berbicara, aku terlalu malas melanjutkan kutipan bercerita, dan kutipan masih sibuk mencari bahan pembicaraan.
"jadi....", kutipan itu berdiri dari meja makan dan berjalan kearah kulkas. Seperti biasa dia mencari bir agar suasana mencair, tradisi yg sudah kulupakan sejak mengenal kesepian.
"kamu mau berbicara tentang teman barumu?", kata kutipan setelah mengambil sekaleng bir dingin. Aku diam tidak menjawab. Karena sepi yg serakah yg memangsa hidupku, keluargaku, temanku, bahkan agamaku. Lagi.
"baiklah...", Kutipan terus bercerita bagaimana dia berpetualang setelah keluar dari isi kepalaku. Dia kesana-kemari, dari dunia la la ke dunia li li, ke negeri na na na dan cha cha ra. Gaul, pikirku dalam hati. Biar diam kupingku mendengarkan bagaimana cara dia mempengaruhi orang. Dan aku teringat awal kita bertemu di akal pikiran. Terlahir dari semesta ide yang buatku lupa aku luka, yg memang menguatkanku, yg membuatku melawan ini itu. Namun pada akhirnya, entah kepada siapa dan apa aku melawan biarpun aku menang, aku yang paling terluka. Semoga kutipan ingat hal itu selagi dia bercerita dan menenggak kalengan bir-nya yg kedua. Aku tidak sedurhaka yg kalian pikir untuk melupakan kutipanku sendiri, aku juga bukan kacang lupa kulit. Karena berbahagialah mereka yg bermata dan tak melihat namun percaya bahwa aku bukanlah kacang. Aku manusia. Bukan karang apalagi kacang. Manusia yg takut terluka. Dan berdarah entah tidak berdarah sama sakitnya. Aku lebih baik diam daripada terluka atau membuat luka. Semenjak itulah aku mengenal kesepian. Dia yg menahanku untuk merajam malam seperti yg kutipan lakukan. Aku manusia. Aku takut terluka. Aku...aku... Sudahlah.. Aku lelah.. Pada akhirnya aku tau, aku hanya mencari cara untuk keluar dari sengketa berhidup ini. Mencari pembenaran dari konsep benar yg belum tentu benar dan salah yg belum tentu salah. Egois.
Kutipan melihatku berpikir keras, tentunya dia tau itu karena dari sanalah ia berasal. Dari pikirku yg keras.
"sayang, jika tidak melakukan kesalahan, apa yg membuatmu melakukan kebenaran? Benar jadi keras adalah salah, tapi apa jadi lembut adalah kebenaran yg absolut? Bukannya karang juga pendiam, sayang?", bisiknya perlahan dari belakang telinga. Dia pun melangkah keluar dengan kaleng bir yg ketiga, pergi lagi entah kemana
.........
Lalu aku pun berpikir untuk mengusir kesepian.