Rabu, 28 Agustus 2013

Lamunan Sang Wisanggeni

Duduk termangu dia yang beralaskan bintang. Orang berkata dia bulan, sebagian darinya selalu hilang. Entah sisi gelap yang dia sembunyikan, entah luka, entah pula kenangan. Tak terselami lagi pikirnya sunyi, dia diam diantara awan, dia kemilau di kelamnya malam. Andai aksara yang kususun adalah tangga, bisa saja dia menuruni tangga itu dan menemuiku malam ini. Tapi apa daya, tinggiku semampai dan tanganku terlalu pendek untuk memeluk pundaknya.  Pun dia juga enggan mengotori telapak kaki cikal bakal surga karena menginjak kata lidahku. Bulan lagi termangu, sendinya ngilu. Dingin sedinginnya malam tak secantik sedihnya yang makin membiru. Apa derita yang membuatnya indah? Apa luka yang membuatnya mempesona? Merah merona sewarna darah bibirnya. Hidung mancung yang membuat daguku ingin meluncur turun dari situ untuk bertamu di buah dadanya. 
Kemilau langsat kulitnya melebihi gambar shinta di ramayana. Aku yakin rahwana berpikir dua kali untuk menculik shinta setelah melihat dia. Dan mungkin batara kala akan diam mengikut semesta jika mendengar dia berbicara. Bulan jangan diam saja. Bulan kemari saja. Tak peduli dikata hina, dimata dewi amba dan rahwana cintaku sempurna. Akan ku lumat semesta jadi abu di neraka jika tidak membiarkan kita bersama. 

Kamis, 08 Agustus 2013

Cerita di segelas kopi

Cerita di segelas kopi. Pada mulanya aku menertawakan waktu yg berjinjit-jinjit kecil di depan mataku. Lambat, pelan dan terlihat bodoh. Entah menertawakan apa dan kenapa, aku mempertanyakan apa yang akan ku apakan. Berlanjutlah segelas kopi sesayup memanggil bibirku yang dulu sering kamu kulum. Seteguk.... Sekejap menguap di kerongkongan dan seperti kepulan asap, uap kopinya masuk menyelinap ke otak. Menstimulasi roda gigi dan lekukan otakku yang basah. Serasa dia adalah kuas dan otakku adalah hamparan kanvas yang luas, seluas laut biru kesukaanmu sayang. Segores cat nya warna abu-abu, dari situ muncul sesosok manusia yang menyerupai aku. Tak ayal aku terpingkal, bagaimana bisa satu warna menggambarkan diriku yg kau bilang rumit dulu? Entahlah sayang, aku lupa bagaimana cara otakmu bekerja. Lalu berlanjut goresan kedua dibawah goresan abu-abu, kini warna biru yg muncul. Dan dari sana mengalirlah lautan berwarna biru. Laut yg sama ketika kau membasuh kakimu di malam itu. Ya, laut yg sama. Tak berhenti disitu, goresan ketiga berlanjut, kini berwarna merah. Membentuk kamu. Membentuk jelas dirimu, lekuk tubuh kurusmu dan lekuk di pipimu yg selalu ingin ku robek dan ku simpan di kantung celana jins ku. Aku melihat antara abu-abu, biru, dan merah tak mungkin menyatu. "nabrak bor!", begitu kata temanku yg gaul. Tak mungkin cocok untuk menyatu. Tak mungkin bs membentuk warna yg baru seperti biru dan kuning jika menyatu. Andai aku kuning, andai aku adalah warna lain... Setidaknya salah satu warna di pelangi yg pernah kita lihat di atap rumahmu waktu itu. Andai saja..... Mungkin hanya warna pekat kopi yg bs mendekati masuk ke kepalaku, seperti segelas kopi ini yg baru seteguk ku minum. Aku pula tak mampu melihat tangan yg menggerakkan kuas uap itu didalam otakku, bahkan dengan bagian bola mata terbasahku. Aku buta di ranah dunia, serasa aku terlahir tanpa retina yg mereka bilang realita. Entah sihir apalagi, sayang yg akan dimainkan pada tegukan ke dua, tp aku belum melihat goresan keempat didalam kepalaku yg berbentuk karang berwarna abu-abu

Pengikut