Minggu, 14 Juli 2013

Suatu ketika

Pernah ada suatu ketika ketika tanya tak lagi berguna.

"aku jelas tau apa isi pikiranmu...",
Kataku berbisik

"terang saja sayang, aku yg mendiami isi kepalamu",
Katamu tenang

Dan suatu ketika itu hanya terjadi dulu, suatu ketika dimana kita selalu bertemu. Dan ketika sekarang kita tak lagi sering bertemu, kira sekarang tak lagi dikatakan satu. 

Dulu, aku selalu bertanya, 
"lagi apa dimana sama siapa?"

Dan secara otomatis otakku menjawab sama persis seperti jawabanmu,

"dirumah, tidur, sendiri..."

............

Keadaan berubah, sayang, tak tau lagi kamu sedang apa dimana sama siapa. 
Meskipun otak ku otomatis menjawab,

"lagi main diluar bersama dia"

.......

Sayang, mungkin benar kata orang jaman dulu. 

"jika kau tak bisa mengusir orang lain didalan kepalamu, mungkin memang disitu tempat dia seharusnya berada"

Senin, 01 Juli 2013

Serasa

Serasa ada, serasa tak ada
Serasa tak bertemu
Serasa tak kunjung usai

Serasa maut melewati,
Serasa melupakanku

Ku tanya maut,
"Hey, bodoh kau melewatkanku?"
Maut tak mejawab,
Serasa tak mendengar

Serasa nafasku berasap
Serasa mulutku meleleh
Serasa nyata dalam ketiadaan
Serasa hilang dan tersesat

Entah terasa atau tak kurasa
Tangan-Mu yg inginnya aku melingkar di pundakku
Seinginnya dipucuk rindu yg tak bertamu
Sejatinya asa yg ku damba

Serasa bermata namun tak melihat
Serasa berkulit namun tak menyentuh

Aku buta di realita dunia,
Bola mata basahnya serasa mengering
Aku hina di penghujung muda,
Mendamba jiwa sempurna dan raga yg indah

Aku hilang, seiring kepulan asap
Aku habis, seiring bir di gelas

Serasa ada namun tiada
Serasa kosong yg nyatanya penuh terisi

Serasa gila aku dipermainkan realita

Abu Satu Waktu

Ada yang bilang hitam ada yang bilang putih.
Begitupun intensitas warna, ada yang bilang gelap ada yang bilang terang
Entahlah, sayang, apa salah Tuhan menciptakan perbedaan atau kita yang belum bs mencintai perbedaan itu sendiri?
Berbeda belum tentu saru tp berbeda pun belum tentu satu.
Sebab ada tertulis, "gelap tak akan bs menyatu dengan terang, seperti yang percaya tak akan bisa bersama dengan yang tak percaya"
Apa perpaduan gelap dan terang bisa dikatakan senja? Aku suka senja. Temaram, tidak gelap tidak juga terang.
Ataukah pagi? Entahlah, sayang, aku lebih suka menyebutnya senja temaram.
Banyak puisi lahir disitu, kala pun mengadu pada perbedaan yang ternyata tabu.
Jadi siapa bilang perbedaan itu baik? Mungkin harusnya dunia tidak warna-warni. Dunia harusnya abu-abu, bukan merah atau ungu. Karena benar dan salah pun relatif, tergantung dari segi perspektif.
Dengan dunia yang abu-abu, kita bisa melebur jadi satu. Tanpa tanya, tanpa mata, tanpa mulut yg berbicara beda, kitalah satu.. Bukan dua, tiga, lima, atau berapapun itu semua.
Dan jika masih kita berbeda, aku mungkin tak bisa. Yang satu memang hanya Dia dengan nama yang berbeda, katamu.
Tapi jika kita masih berbeda, aku pasti tak bisa. Karena aku ingin ada aku, kamu, dan upah-Nya yg jd benih tumbuh diperutmu nanti memuji nama-Nya yg satu dengan mataku yg abu-abu.
Pun jikalah perbedaan adalah sebuah dosa, apalah artinya surga jika katanya dosa itu indah? 
Dunia paradoks, penuh tua-tua dengan pikiran tak berguna.
Sayang, andaikan perbedaan itu bukanlah sebuah dosa, akan kubuat satu tempat yang disebut neraka untuk kita berdua didalamnya
Seketika itu juga nyala apinya membakar perbedaan sampai abu kita melebur jadi abu satu waktu.

Pengikut