Senin, 30 Januari 2012

Masuki Cahaya Abadi

Asa dalam ketiadaan. Terdiri atas berbuku-buku nestapa yg diuraikan.
Terlepas dari semua itu, keinginan untuk memilikimu makin terasa jelas walau dilihat tanpa mata.
Kenyataan yg ku pungkiri, keadaan yg kusangkal dan kusesali, seakan tiada habis memakan tubuhku yg membiru.

"Apa? Siapa?"
Seketika tangan hitam menggenggamku..

"Oh, kamu lagi kamu lagi. Tak puaskah kau menelanjangiku? Menindihku dan memaksaku memuaskan nafsumu?"
Gumamku pada kesedihan yg memelukku erat

Semakin hangat, larut, seperti pusaran air. Aku tenggelam oleh airmataku sendiri. Suaraku habis, sakit dan berdarah terlalu sering berteriak menghujat takdir.

Sayang, ceritaku tak lagi di buku harianmu.
Sayang, rinduku tak lagi ada dibenakmu.

Perlahan menghujam nadiku semakin dalam. Aku memejamkan mata, tak bedanya dengan membuka mata. Gelap, tiada cahaya sekecilpun nampak didepanku.

"Tunggu, itu cahaya!"
Teriakku berlari menyusuri lorong gelap yg becek dan lembab

Sedikit lagi aku meraih cahaya itu, sedikit lagi aku keluar dari lorong sesat bernama kesedihan.

Sesampainya tangan kecil malaikat mungil menyentuh pipiku. Sesayup ku dengar semua bernyanyi, seperti menanti kedatanganku.
Dan cahaya sehabis gelap, itulah rumahku. Dari sini aku memandangmu, jauh menusuk melewati segala yg menutup. Aku menjagamu, melindungimu, membisikkan rinduku.
Lewat angin, hujan, matahari, dan bulan yg mengintip genit di atas atap rumahmu. Kamu bs merasakannya, dari balik jendelamu itu.
Buka jendelamu, rasakan semilir angin hangat yg mengusap rambutmu, saat itulah aku menyentuhmu.

Selamat malam sayang, aku tak bisa kembali. Jika sempat mengingatku, sampaikan salam pada hatiku yg terlanjur ku titipkan di kantong celana jins mu. Aku merindumu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut