"apa dan bagaimana?"
"entahlah kamu yang lebih tahu"
"apa kamu tidak bosan?"
........
Seperti itu lalu kamu menghilang menarik semua tulisan.
Seakan sebuah doa yang terhenti sebelum mengucapkan kata amin
kamu ingin aku menulis? tahukah kamu bagaimana penampilan rahim yang melahirkan tulisanku?
Dia kelabu! bahkan dinding didalamnya berwarna biru, bayangkan tulisanku merangkak keluar dari situ dan mencungkil setiap mata yang melihatnya sedang telanjang dada.
ada jejak berdarah di langkah pertamanya.
tunggu,
tunggu dulu,
sebentar biar ku tarik nafas, aku sedikit keterlaluan menggambar setiap anak yang kulahirkan.
seharusnya mereka manis dan langkah kecilnya membuat gemas.
seharusnya.
baiklah,
begini mungkin yang seharusnya terjadi. aku akan mencintaimu lewat tulisanku.
semua berawal dari dalam kepalaku, letaknya di bagian otak insula dan striatum.
bagian itu menikmati potongan syandu parasmu, mungkin sebaiknya seperti itu.
melihatmu sepotong dari keutuhan jauh lebih cukup daripada tidak melihatmu sama sekali.
dari sana aku mulai menulis, aku menulis kehilangan yang belum pernah kudapatkan.
sampai tulisan selesai aku akhirnya menemukanmu dan lucunya seketika kehilangan diriku sendiri
kalap? mungkin.
lalu kubawa penghapus dan menghapus dirimu, sampai yang kuhapus terlalu jauh
aku menghapus diriku sendiri.
sama saja.
lihat kan? keutuhanku adalah potongan dirimu dan tulisanku, sayang.
dan semua kisah memiliki akhir, bahkan selamanya pun harus berakhir. entah dimalam atau pagi keberapa harusnya akhir itu menambatkan perahunya.
aku merasakan takut memikirkan itu. aku takut ini berakhir. aku takut kita berakhir.
aku takut semua selesai jauh sebelum dimulai.
lebih dari itu semua, aku takut kehilanganmu.
takut sekali.
