Senin, 25 April 2016

Balon udara

"Terbang.. Terbang.. Tinggi..!!", bocah itu berlari membawa balonnya keluar rumah. Imajinasinya bersemayam didalam balon dan menarik tangannya hingga terbang tinggi ke angkasa. Rianglah hatinya, bahagialah isi dunianya. Dia lupa pulang. Sampai pada tingkat langit ke tujuh balonnya pecah, hanya tangis yg tersisa. Bocah itu baru lima tahun, dia jatuh seakan secorek kertas. Malang melintang dia hilang entah kemana.. Terbawa angin percuma sampai bertahun-tahun sudah. Suatu ketika dia terbiasa terbawa arus antah berantah, dia melewati lagi rumah yang dia tinggalkan dulu. Melihat orangtuanya (masih) bahagia, tanpa dirinya. Tak ada tangis ataupun kerut bekas sedih di dahi mereka. Dan membayangkan sulitnya hidup tanpa orangtua membuatnya gila, tapi memikirkan orangtua yang lupa anaknya hilang buat dia hilang pikiran. "Lalu biar saja Tuhan jadikanku angin..", doanya yg mengambang diangkasa. Pun juga sesaat angin membawa doa itu ke telinga Sang Dia, Si Maha Besar itu dan mengabulkannya secara cuma-cuma. Inilah balasannya anak nakal yang tidak pernah pulang kerumah.

Taxi dari masalalu

Rabu, 06 April 2016

Kepada ombak, dari karang

Kepada ombak dari karang. 
Aku diam kalamu menghantam.
Aku pun lacur pada deburmu yang hancur. 
Jantungmu, tubuhmu, hatimu, lukamu yang kulihat dari ujung mata menyentuh kaki langit. 
Katakan aku keras, tapi rasamu berbeda. Menyentuh celah paling bawah. Mengikis tangis dengan tinju paling manis. 
Sayang, kala gerimis memandang pada resah yang selalu datang, kala mana saatnya takdir bisa ku bawa pulang? Takdir untuk kita yang tak terpisahkan, takdir untuk segala yang tak ingin dilupakan. 
Apalah aku tanpamu, apalah kamu tanpaku
Kodratnya kepada ombak dari karang tak mampu dipisahkan
Jikalah terpisah, sayang, semesta kan terguncang, bumi kan beranjak dan langitpun bergoyang 
Kepada ombak dari karang

Pengikut