Kamis, 05 Juni 2014

Sampan sangkuriang

"Kita hidup cuma sekali, dan aku mau hidup denganmu", ucapku di telepon. Hening sekejap berjinjit melewati jarak antara kita. Berlarut tiap malam tak saling memandang dan tak bersentuhan. Rindu saling menunggu bertamu temu. Tunggu dan terus menunggu agar bibir saling menyatu juga lingkar tanganmu sayang memeluk pundakku. 
"Aku tau kamu lelah, sabar sebentar, aku mencari jalan pulang", ujarku lirih. Bukan, aku bukannya tersesat sampai harus meninggalkanmu disitu. Anggap saja aku sedang membangun istana yg nyata untuk kamu tempati. Bukan sekedar istana mimpi yg kubangun diatas pusarmu, dulu. Aku berandai akulah sangkuriang dan dalam semalam kubangun sampan bagi airmatamu yg tergenang, tapi sayang aku bukan sangkuriang. Aku ingin jadi pemenang bagimu dan pulang penuh dengan piala berlimpang. 
"Semuanya untukmu, tenang disitu", berkali-kali sayang ku ucap itu. Tapi malah diam yg kudapat. Bisa kubayangkan wajah bebekmu menggerutu dan berharap aku naik taxi langsung kesebelahmu.
Tak kurang entah setiap kapan rindu ku bicara pada Tuhan, mengadu agar airmataku diberi kaki untuk berlari kearah pintu kamarmu. Mereka pun berlari membentuk kelok sungai berliku dan kubawa sampan sangkuriang melintasi jarak waktu sampai kita bertemu.

Senin, 14 April 2014

Mimpi si karung goni

"Kamu siapa?", tanyaku sebentar dalam hati. Menggumam selaksana cenayang merapal mantra. "Kamu kenapa?", bingungku dibuatmu, kenapa kamu? Kenapa harus aku? Kenapa hidupku? Yg mau ku sisakan, yg ingin kuhabiskan semauku denganmu. Tapi lihat dirimu, sayang, berkacalah. Bayangmu pun bangga menjadi dirimu. Dan lihatlah aku, bagaimana aku, bongkahan batu yg menggelinding bebas dan hilang entah kemana. 
Aku mau kamu. Aku mau hidupmu. Akulah aku, egoku yg ada padaku. Ingin kubunuh diriku jika berani bermimpi denganmu. 
"Sadar diri, bos!", kataku hina. 
Dan entah sudah malam keberapa kucoba menabrak bulan untuk terdampar diantara bintang, bukannya di kebun binatang yg penuh dengan umpatan. 

Kamis, 02 Januari 2014

Sofa impian

Kenyamanan itu adalah, ada aku dan kamu duduk disofa menonton dvd semalaman.
Buatku uang pun tak bisa membeli kenyamanan itu.
tapi kamu, buatmu kenyamanan adalah sofa yang canggih, yang punya mesin roket dan kulkas didalamnya, sofa yang bisa buatmu terbang ke angkasa. sofa impian
sayang, aku gak punya sofa seperti itu. sofaku warnanya coklat keabu-abuan, dengan beberapa keping dvd, bir dan pizza yang bisa kita pesan lewat telfon sebagai perlengkapannya. 

kamu mau sofa canggih itu? 

mungkin aku bisa mendapatkan dua, atau tiga sofa yang kamu suka. tapi berjanjilah jangan pernah pergi daripadaku. Jangan pula bertanya tentang bagaimana dan seperti apa caraku membeli sofa impianmu, hanya duduk saja dan nikmati sofamu itu.

sofa yang kudapatkan warnanya merah dari kulit rusa, ada mesin jet dan tenaga roket yang buatmu terbang keangkasa, tapi sayang konsekuensinya aku tak bisa menemanimu seperti biasa, ada harga yang harus kubayar untuk sofa impianmu.

lucunya aku jelaskan beberapa kali ketika kamu bertanya mengapa aku tak pulang hari ini. aku tak bisa menemanimu disitu, kamu tau aku mau kamu, aku tau kamu mau sofa itu. tapi kamu marah dan karena aku tak lagi sering duduk disitu. Disebelahmu. Diatas sofamu yg baru.
kamu marah, kamu pergi bawa sofa impianmu, sama mantanmu, terbang kebulan naik sofa yg kuberikan cuma buat kamu.

.......


"Ada cinta, hilang segala...."

kata pujangga tua duduk diatas sofa tuanya...

Melihatmu pergi menjauh. Mendengakkan kepalaku untuk melihatmu hilang perlahan dan tersapu langit yang membiru. Lalu inilah aku, pulang dengan bibir berdarah menggigit mawar merah berduri yg sengaja kubeli sebelum menemuimu. Sendiriku duduk di sofa nyamanku tanpa kamu, cuma bir, pizza dan beberapa keping dvd..

aku rasa, aku tidak kehilangan semuanya. Kata membiru pada rinduku padamu yg kurasakan tabu. Tak mau lagi ku tukar cintaku dengan sebuah sofa atau keinginan yg bukan daripadaku biarpun itu membahagiakanmu. Aku mau hidupku. Biarpun dulu hidupku itu kamu. 

"ada cinta hilang segala..."

*lempar pujangga tua pake sofa*

Pengikut