Kamis, 17 Februari 2011

jakarta dikala malam

Anjing!
Umpatnya keluar dari pintu bar.
Biarpun hujan dia tetap berjalan.
Tidak terasa dingin karna api didalam hatinya jauh lebih hangat dari api neraka
Serasa mau meledak!
Sudah di ubun2!
Terus mengumpat menuju tempat parkiran
Dia pun terus berjalan dan menjadi pusat perhatian bagi pemabuk yg kehujanan
Sesampai di mobil sedan mahal kesayangannya, dia merogoh tasnya, merogoh kantongnya.
Djancuuuuuuk!!
Logat khas keluar lagi. Lebih menyalak.
Kunci mobil tertinggal di meja bar.
Mau tak mau kembali lagi kedalam, dan pulang sebelum dia berpikir untuk menghantamkan kepalanya ke kaca mobil.
Sambil berlari dia kembali masuk.
Basah kuyup. Penuh marah rasanya air dikepalanya menguap karna panas yg mendidih di ubun2.
Langkah demi langkah, dengan geram, tangan dan gigi gemertak dia menuju meja yg diduduki seorang pria khas metroseksual dengan 6botol bir dimejanya.

'Kenapa kamu datang lagi?? Kurang puas hina saya??'

'Diam, anjing! Gue mau ambil kunci mobil gue!'

'Kunci mobil kamu? Sejak kapan itu hak milik kamu? Sudah lupa apa yg kamu lakukan dengan kelamin saya demi dapatkan itu?'

'Oh! Jadi ini perlakuan lo yg udah asik mengobok-obok gue? Kurang puas?'

Segala perkataan kasar keluar dari mulut mereka, dan setiap pasang mata tertuju tanpa mereka. Berkelanjutan. Suasana liar menggila. Seperti tontonan sirkus aneh dengan anak kecil berjanggut sebagai tontonan utama. Penonton tersirap. Ada pasang mata risih, ada pasang mata ingin tahu, dan ada pasang mata terkejut.
Make up yg luntur terkena hujan tidak menghalangi kecantikannya. Tiap orang pun memandang mereka sampai live band yg sedang menghibur para tamunya. Begitu juga para pemabuk dan pelacur yg asik bercumbu berhenti untuk menyaksikan mereka.
Gebrakan meja, kata kotor, segala bahasa kebun binatang dari babi sampai monyet. Dari bangsat sampai pelacur, semua menyatu seperti panggung sirkus kebun binatang sesat. Keadaan panas memuncak.
Seketika pintu bar terbuka, satu lagi yg geram gemertak dikepala panasnya datang kearah mereka. Bunyi hak tinggi ketika berjalan, jelas dia membanting kaki menyentuh lantai. bayangan gelap yg tidak terlalu jelas, siapa sosok yg datang menghampiri karena minimnya cahaya. Apakah pihak kemanan bar? Pemilik bar? Ataukah salah satu pemilik sepasang mata yg akhirnya muak mendengar kata kotor mereka.
Kerlip cahaya sedikit menyinari pihak ketiga tersebut, mulai jelas, mulai cemas pihak yg dituju, mulai lemas lutut mereka berdua.
Seorang wanita tua yg terlihat jelas kaya, setelan kain yg seharga tanah dibilangan jakarta. Dia lantang keras menunjuk dan berteriak,

'Papa!! Cukup!! Sudah saya peringatkan berkali2 jangan sentuh anak saya! Apa saya tidak cukup memenuhi kebutuhan kelamin kamu??! Dan kamu juga anakku! Bikin malu mama! Kamu gak tau sakitnya hati mama kamu, diam2 hubungan intim dengan pacar mama!!'

Sontak dua orang yg ribut seperti genderang itu diam. Perasaan kalut. Kaget. Setengah tidak percaya. Ingin mati saja, rasanya.

'Sekarang, pulang anjing2!!'

Sambil memegang kepala, wanita tua itu berteriak, tanpa banyak bicara dua orang itu seakan terhipnotis kaku dan berjalan keluar. Panggung sirkus sesat bubar. Seperti tersambar petir rasanya. Menyusul wanita tua itu terhuyung berjalan keluar sebelum serangan jantung datang.

Hujan pun reda, suasana hingar bingar di bar berangsur normal.
Sebagian masih bercerita, sebagian kembali menggoda bercumbu seakan tidak terjadi apa2.

Dan dua mobil sedan mahal berjalan beriringan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut