Kamis, 05 Juni 2014

Sampan sangkuriang

"Kita hidup cuma sekali, dan aku mau hidup denganmu", ucapku di telepon. Hening sekejap berjinjit melewati jarak antara kita. Berlarut tiap malam tak saling memandang dan tak bersentuhan. Rindu saling menunggu bertamu temu. Tunggu dan terus menunggu agar bibir saling menyatu juga lingkar tanganmu sayang memeluk pundakku. 
"Aku tau kamu lelah, sabar sebentar, aku mencari jalan pulang", ujarku lirih. Bukan, aku bukannya tersesat sampai harus meninggalkanmu disitu. Anggap saja aku sedang membangun istana yg nyata untuk kamu tempati. Bukan sekedar istana mimpi yg kubangun diatas pusarmu, dulu. Aku berandai akulah sangkuriang dan dalam semalam kubangun sampan bagi airmatamu yg tergenang, tapi sayang aku bukan sangkuriang. Aku ingin jadi pemenang bagimu dan pulang penuh dengan piala berlimpang. 
"Semuanya untukmu, tenang disitu", berkali-kali sayang ku ucap itu. Tapi malah diam yg kudapat. Bisa kubayangkan wajah bebekmu menggerutu dan berharap aku naik taxi langsung kesebelahmu.
Tak kurang entah setiap kapan rindu ku bicara pada Tuhan, mengadu agar airmataku diberi kaki untuk berlari kearah pintu kamarmu. Mereka pun berlari membentuk kelok sungai berliku dan kubawa sampan sangkuriang melintasi jarak waktu sampai kita bertemu.

Pengikut