Perlahan tapi pasti kian mendekat
Terlarut terlalu pekat pada elegi yg kian melekat
Seperti abu pada rokok yg layu dan terjatuh ke asbak
Membakar setiap keberanian dan jatuh terjebak
Aku takut mencintaimu
Terlalu takut untuk jatuh ke lubang yg sama
Teraniaya rasa kesal yg terlanjur lama
Dan tanpa kesenangan semata semua rasa hilang tiada bekas
Karena aku terlalu takut mencintaimu
Memilikimu yg tak menginginkanku
Mencintaimu yg tak mendambaku
Merindumu yg tak memikirkanku
Menangisimu yg tak kunjung datang kepadaku
Dalam gelap semua irama elegi tertelan perlahan
Seakan manis rasa yg terasa pahit
Aku terlalu takut mencintaimu
Rasa pada asa dan putus harapan dikepala
Aku mundur perlahan
Mencari rasa yg tak pernah ku rasa
Aku terlalu takut mencintaimu
Itu sudah cukup, dan tak pernah akan lagi ku lakukan
Senin, 24 Oktober 2011
Senin, 10 Oktober 2011
rima elegi
Asa yg tiada
Cinta yg gundah gulana
Membara sepanjang masa
Memerah diroda yg sama
Dengarlah waktu yg tak lekang
Cinta padanya yg tak pernah hilang
Biar tiap malam teriak mengerang
Mencari hangat ditatapan bintang
Teranglah yg ku cari
Walau selalu tak mau sendiri
Hingga tak ada yg mengerti
Dan memahami arti berbagi
Keinginan yg tak tercapai
Tanpa kesempatan untuk memulai
Sempatkan menangis gemulai
Dan langkah tertatih yg lunglai
Aku mencintaimu
Aku menginginkanmu
Aku merindukanmu
Aku membutuhkanmu
Rima pada elegi
Manis yg tak pasti
Dengarlah jantung hati
Aku masih mencintai
Cinta yg gundah gulana
Membara sepanjang masa
Memerah diroda yg sama
Dengarlah waktu yg tak lekang
Cinta padanya yg tak pernah hilang
Biar tiap malam teriak mengerang
Mencari hangat ditatapan bintang
Teranglah yg ku cari
Walau selalu tak mau sendiri
Hingga tak ada yg mengerti
Dan memahami arti berbagi
Keinginan yg tak tercapai
Tanpa kesempatan untuk memulai
Sempatkan menangis gemulai
Dan langkah tertatih yg lunglai
Aku mencintaimu
Aku menginginkanmu
Aku merindukanmu
Aku membutuhkanmu
Rima pada elegi
Manis yg tak pasti
Dengarlah jantung hati
Aku masih mencintai
Langganan:
Komentar (Atom)
