Sibak rambut yg tergeraimu mengundang tawa biru yg sengaja kututupi dengan senyum palsu. Hilanglah, sayang. Aku tau cara menemukanmu
Dan tentang biru pekat yg mengalir deras melewati pipi, sudah kulupakan. Aku hanya tertawa pada diriku, dan mecari rokok yg baru
Tertawalah sayang, karena aku tak lagi tertawa. Menangislah sayang, karena aku tak lagi menangis. Untukmu, biru yg pekat.
Aku tak akan menyelam terlalu dalam lagi, terlalu biru hingga tak terlihat. Tak ada cahaya dan tangan yg sampai. Tak ada yg bisa selain aku
Dgn wujud, warna, dan bentuk yg berbeda. Aku biarkan sungai yg terbentuk untukmu kering. Tak lagi dalam, tak lagi sejuk..
Dan biru yg pekat, aku tak membencimu. Aku hanya benci indra penglihatanku yg kabur melihat lukaku
Tak ada haru biru sedu. Hanya aku membakar rokok yg baru. Tanpa kamu. Tanpa pilu.
Bukan jalan yg tepat jika saling mengumpat. Aku berhenti mencarimu, dan akan menemukanmu bila sempat.
Tanpa alasan, kenapa dan bagaimana aku mencintaimu. Aku hanya tau, aku memang mencintaimu. Bukan kata dan janjimu
Biru yg pekat
Biru yg pekat
Aku bukan pemaaf, aku hanya pelupa. Lupa untuk tidak mencintai semua perbuatan burukmu. Apa adanya. Selalu dan setiap saat.
Jumat, 09 September 2011
Langganan:
Komentar (Atom)
